Berani untuk Berkata Tidak

TEMAN saya seorang pengusaha servis. Dia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk ukuran rata-rata seorang tukang servis. Namun dari hari ke hari bisnisnya tidak berkembang terlalu pesat. Nyaris stagnan bahkan banyak orang yang mengajukan komplain atau protes atas hasil kerjanya. Apakah pekerjaannya buruk? Tidak. Apakah dia menipu orang? Tidak juga.

Awalnya saya tidak mengerti mengapa potensi yang bagus itu tidak membuat dia melejit dalam karir dan bisnis. Untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya saya sendiri melakukan proses transaksi bisnis dengannya. Anggap saja dia namanya Toro. Saya bilang pada dia bahwa saya butuh menservis barang-barang elektronik yang saya miliki. Saya tanya dia, kapan bisa datang dan berapa biaya servis untuk per unitnya. Dia berjanji dua hari lagi mau datang dan biaya disesuaikan saja dengan yang sudah-sudah.

Saya tunggu selama dua hari. Anehnya setelah tiba pada hari yang dijanjikan ternyata dia tidak datang ke tempat saya. Awalnya saya masih positif thinking, mungkin dia pagi hari sibuk dan akan datang siang hari. Ditunggu sampai sore tidak datang juga. Keesokan harinya pun tidak muncul, baru seminggu kemudian dia datang dengan tergopoh-gopoh. Melihat wajah dia saya agak jengkel, tapi saya tetap berusaha untuk bersikap tenang dan biasa.

Dalam pikiran saya mestinya kalau dia sibuk atau tidak bisa datang, saya dikabari apakah ditelepon atau di-SMS. Saya memang tidak berusaha untuk menghubungi dia karena sudah janji cukup matang untuk datang ke tempat saya. Saya hanya bercanda pada dia dengan ungkapan, "Wah, ada order yang lebih besar ya sampai order kita yang kecil dinomorduakan," kata saya.

Gak ada penjelasan maupun ungkapan meminta maaf. Dia hanya terlihat seperti rikuh tapi tidak jelas apa yang dia rikuhkan. Tidak hanya sampai di situ. Kali berikutnya saya punya janji lagi dengan dia. Tapi kali ini saya tidak mau berspekulasi apakah dia datang atau tidak pada waktu yang dijanjikan. Pada hari H datang dan sampai siang hari belum datang saya coba kontak handphone dia. Apa yang terjadi? Handphonenya mati. Saya coba menghubungi nomor lain pun sama, tidak aktif.

Ketika saya sudah tidak lagi mengharapkan dia, tiba-tiba dia datang persis seperti kedatangan dia kali pertama ketika janjinya meleset. Saya beri kesempatan dia untuk menyelesaikan pakerjaannya. Setelah itu saya dekati dia dan mencoba untuk bertanya. Pertanyaan saya kira-kira, mengapa janjinya meleset? Dia menjawab, bahwa ketika mau datang ke tempat saya tiba-tiba ada orang datang dengan mengatakan, "Tolong mas, saya butuh sekali bantuan Anda. Sekarang juga harus datang ke rumah saya," tuturnya menirukan orang yang berkata pada dia.

Dan pada saat itu dia bimbang apakah akan ke rumah saya atau ke tempat orang yang memohon dan meminta tolong untuk datang. "Saya orangnya gak enakan pak. Akhirnya saya memenuhi permintaan orang yang datang ke rumah saya dan mengerjakan permintaan dia," katanya. Akhirnya dia sampai ke tempat saya beberapa hari berikutnya. Dan dia katakan tidak hanya kepada saya memperlakukan klien bisnisnya seperti ini, sudah banyak orang yang protes kepada dirinya tapi kesulitan untuk menemukan jalan keluar, harus bagiamana ngomongnya.

Saya mencoba untuk memberikan gambaran kepada teman saya itu. Tidak enakan kepada orang itu bagus, tapi kalau sudah janji kepada seseorang kemudian datang orang kedua meminta waktu kita dalam waktu yang sama, maka ketidakenakkan itu menjadi bumerang bagi kita. Mengapa kita tidak terus terang saja bahwa kita sudah punya janji dengan orang lain. Saya pikir dia juga pasti mau mengerti bahwa kita juga memiliki jadwal kunjungan kepada orang-orang yang jumlahnya tidak hanya satu atau dua orang.

Dia tampak senang kepada saya. Entah senang karena saya tidak marah atau senang karena saya malah memberitahu dia yang selama ini dia anggap merupakan persoalan yang tak kunjung bisa diselesaikan oleh dirinya. Tapi saya tegaskan kepada dia bahwa saya sendiri pernah mengalami hal yang sama beberapa tahun ke belakang. Saya berkata seperti itu dengan harapan dia tidak beranggapan bahwa sesuatu yang terjadi pada dirinya adalah sesuatu yang dianggap aneh. Kalau dirinya mau berusaha untuk mengubah, maka dia juga akan bisa mengubahnya sikapnya yang kurang menguntungkannya.

Sekitar dua puluh tahun lalu, saya mengalami hal yang sama. Tidak enak kepada orang-orang yang meminta bantuan kepada saya. Akhirnya saya sering dimarahi orang karena janji tidak tepat waktu dan bahkan mengecewakan teman sendiri. Apa yang terjadi saat itu kepada saya? Saat itu saya hanya berpikir tidak enak dan tidak berani untuk berkata 'tidak'. Kata 'tidak' saya rasakan sebagai sesuatu yang bisa melukai perasaan. Saya tidak berpikir bahwa berjanji dengan orang dan tidak menepatinya jauh lebih mengecewakan ketimbang berkata 'tidak' karena memang kita tidak bisa melakukannya.

Dari beberapa pengalaman saya akhirnya belajar banyak dan suatu ketika memberanikan diri untuk berkata tidak, menolak permintaan seseorang karena saya benar-benar tidak bisa. Saat saya menolak dan berkata tidak, ada rasa lega dalam hati dan perasaan saya. Sejak saat itulah saya selalu berani untuk berkata tidak, menolak sesuatu yang memang tidak bisa dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan aktifitas lain. Tapi tentunya kita harus tetap konsisten setelah berkata ya pada orang tersebut, kita harus menolak permintaan orang berikutnya apabila berjanji dalam waktu yang sama. (Ade Asep Syarifuddin)

*) Ade Asep Syarifuddin, General Manager Harian Radar Pekalongan
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment