Menang Tanpa Ngalahake

Oleh Ade Asep Syarifuddin

MENANG tanpa ngalahake itu adalah filosofi Jawa, memang tanpa mesti mengalahkan orang lain. Dalam kalimat yang lain, meminta tapi yang diminta tidak merasa berkurang, tidak merasa dimintai. Disuruh tapi tidak merasa disuruh dll. Dalam budaya Jawa hal ini sangat kental dalam komunikasi sehari-hari. Ada cuplikan cerita berikut yang bisa mencerminkan filosofi tersebut.

SUATU hari Pak Mud berencana pergi ke Semarang. Tapi ternyata kendaraan miliknya mogok dan harus diperbaiki di bengkel dalam waktu yang cukup lama. Artinya, dia tidak bisa berangkat dengan kendaraannya sendiri dan harus cari pinjaman atau rental kendaraan lain. Pak Mud ingat bahwa Pak Adi temannya mempunya mobil yang lumayan bagus. Sore harinya Pak Mud menemui Pak Adi yang rumahnya tidak terlalu jauh. Berangkatlah Pak Mud sambil membawa tentengan seikat rambutan yang dibelinya dari pasar tadi pagi.

"Assalamu'alaikum Pak Adi. Apa kabar?"
"Waalaikumussalam Pak Mud. Alhamdulillah baik Pak Mud. Tumben sore-sore mampir ke rumah saya." tutur Pak Adi sumringah melihat kedatangan Pak Mud.
"Iya nih Pak, saya kangen Pak Adi. Ini ada rambutan dari kebun pak. Sedikit.
Lumayan buat nyicipi," tutur Pak Mud sambil memberikan seikat rambutan.
"Yang saya tahu Pak Mud tidak punya kebun rambutan," tanya Pak Adi heran.
"Iya, ini dari kebun orang Pak. Saya dapetnya dari pasar pasar tadi pagi," kata Pak Mud mesem.
"Terimakasih Pak. Pak Mud bisa aja," kata Pak Adi setengah tertawa.

Setelah basa-basi kemudian Pak Mud mengutarakan maksudnya.
"Begini Pak Adi. Saya hari minggu besok rencananya mau ajak Pak Adi jalan-jalan ke saudara saya yang berada di Semarang. Kan besok libur tuh. Apa Pak Adi bisa berangkat dengan saya atau tidak," Pak Mud menawarkan kepada Pak Adi.
"Wah... saya sudah lama tidak pergi ke Semarang. Kebetulan nih. Tadinya saya memang merencanakan pergi ke sana. Tapi istri saya tidak bisa. Saya sempat berpikir mau berangkat dengan siapa." kata Pak Adi menyambut.
"Tapi.." kata Pak Mud.
"Tapi kenapa Pak," tanya Pak Adi.
"Mobil saya dari kemarin mogok dan masih di bengkel sampai sekarang," tutur Pak Mud menceritakan kondisi kendaraannya.
"Wah... tidak usah bingung Pak Mud. Pake saja mobil saya. Lagian kita kan berangkat bareng-bareng."
"Wah... terimakasih sekali Pak Adi. Saya jadi sangat terbantu oleh Pak Adi." katanya.
"Kita saling membantu Pak. Yang penting kita saling terbuka," kata Pak Adi.
***
Menurut saya, filosofi Jawa itu adalah ilmu psikologi komunikasi tingkat tinggi. Inti filosofinya adalah selalu rendah hati walaupun bisa, selalu minta tolong walaupun bisa menyuruh secara langsung, memperlakukan setiap dengan apresiasi yang sangat tinggi sekecil apapun prestasinya.

Dari cerita di atas, bisa saja Pak Mud berbicara langsung kepada Pak Adi untuk meminjam kendaraannya. Tapi Pak Mud orang Jawa yang menggunakan filosofi Jawa lebih memilih untuk mengajak dan menawarkan sesuatu terlebih dahulu ketimbang mengutarakan langsung keinginannya. Dia berpikir apa yang bisa saya beri kepada Pak Adi. Ujung-ujungnya Pak Adi sendiri yang menawarkan kendaraannya.

Pemimpin-pemimpin di Indonesia pun sangat kental menggunakan filosofi Jawa. Pak Harto misalnya yang memimpin negeri ini sekitar 32 tahun, walaupun dia seorang militer, dia adalah militer yang Njawani. Sehingga bibirnya selalu dihiasi dengan senyuman. Tidak pernah marah di ruang publik. Kalaupun marah tidak pernah menunjukkan rasa marahnya. Orang yang melihat sulit untuk menebak apakah dia marah atau tidak.

Kalimat yang terbilang "kasar" dan "galak" setahu saya hanya satu kali yaitu ketika jumpa pers di pesawat mengomentari kejadian demonstrasi yang di-aktori oleh Sri Bintang Pamungkas di Dresden Jerman. "Orang yang macam-macam, akan saya gebuk....." demikian potongan kutipan kalimatnya. Keesokan harinya kalimat tersebut menjadi Headline semua koran-koran nasional.

Filosofi Jawa ini memang lebih cocok digunakan dalam konteks kepemimpinan. Walaupun tetap bisa dipakai dalam pergaulan sehari-hari. Kemampuan untuk menahan marah ketika ada pemicu marah, kemampuan untuk selalu tersenyum walaupun hati sedang gundah, kemampuan untuk selalu rendah hati itu menjadi prinsip-prinsip utama. Tidak heran kalau ada istilah yang lain, orang Jawa itu kalau dipangku akan mati. Dengan kata lain, kalau orang Jawa dipuji, maka dia akan lupa akan rasionalitasnya. Dengan kata lain, kalau bersitegang dengan seseorang dan kita menggunakan filosofi Jawa, jangan dilawan, mengalah saja. Dengan cara itu maka lawan akan terkalahkan dengan sendirinya.

Dalam contoh lain, kalimat perintah diubah menjadi kalimat tanya. Seorang Bapak yang sedang mencari sepatunya dan ingin menyuruh anaknya untuk mengambil menggunakan dialog seperti di bawah ini.
"Nak... di mana sepatu Bapak ya."
"Ini Pak ada di rak sepatu," tutur anaknya sambil membawakan sepatu ayahnya.

Bapak tadi bisa saja menyuruh dengan menggunakan kalimat seperti di bawah ini.
"Nak... ambilkan sepatu Bapak di rak sepatu ya."
Dan dipastikan anaknya akan membawakan. Tapi Bapak tersebut lebih memilih menggunakan kalimat tanya, daripada kalimat perintah. Dan hasilnya akan dirasakan sendiri. Kalimat tanya jauh lebih membuat enak dan nyaman perasaan ketimbang kalimat perintah.

Semoga bermnafaat. (*)

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment