Mengubah Kebiasaan dengan NAC















TULISAN ini terinspirasi oleh Buku Anthony Robbins yang berjudul Awaken The Giant Within. Di dalamnya diterangkan tentang cara-cara mengubah satu kebiasaan yang tidak mendukung masa depan kita menuju ke biasaan baik yang mendukung dan memberdayakan masa depan.

Anthony Robbins bercerita tentang pengalaman dirinya beberapa tahun yang lalu. Tubuhnya begitu gemuk, saya lupa berapa kilogram. Tapi sangat tidak enak dipandang mata. Konon Tony (panggilan Anthony Robbins) sampai segemuk itu karena dia mempunyai neuro asosiatif conditioning (NAC- mengkondisikan asosiasi pikiran ketika melihat atau melakukan sesuatu) yang keliru. Saat itu setiap kali dia melihat restoran, maka yang tergambar di pikirannya adalah makanan yang lezat-lezat yang membangkitkan selera.

Tidak heran tiap kali melihat restoran dia langsung berhenti dan langsung makan. Tapi persoalannya tidak berhenti sampai di sana, walaupun tidak lapar-lapar amat, kalau melihat restoran dia langsung berhenti dan makan. Akumulasi kebiasaan tersebut bisa ditebak sendiri, badan menjadi gemuk, berjalan susah, duduk susah, pakaian sempit dan tidak nyaman dalam berbagai
kesempatan. Melihat kondisi seperti itu yang tidak nyaman, karena Tony memiliki sebuah cara untuk mengubah kebiasaan, dia ubah asosiasi neuro-nya dengan cara yang berbeda.

Kalau sebelumnya asosiasi neuro-nya ketika melihat restoran terbayang makanan yang lezat-lezat, kini dia ubah ketika melihat restoran bayangan di layar mentalnya, dia melihat kaca yang sangat besar dan di situ terlihat wajah gendutnya yang sangat jelek, penampilannya tidak menarik dan banyak orang yang mencibir. Perubahan asosiasi tersebut cukup ampuh, terbukti ketika melihat restoran bukannya berhenti malah badan dia bergidik melihat penampilannya sendiri dan restoran dilewati saja.

Kasus yang lain, saya pernah mendengar cerita Helmi Yahya ketika dia mengadakan seminar di Purwokerto dengan Siapa Berani Menjadi Entrepreneur. Ketika itu dia bercerita perjalanan kuliah S-2nya di Amerika dengan waktu tercepat, hanya 1 tahun. Padahal teman-temannya bule-bule semua. Dan asosiasi kebanyakan orang bule itu lebih pintar dari orang Indonesia. Dengan tekad yang kuat, Helmy ingin merampungkan kuliah S-2nya dalam waktu 1 tahun.

Kemudian, apa yang dia lakukan untuk terus mendorong semangatnya? Beberapa orang teman bulenya yang memiliki kemampuan rata-rata, tidak kurang dari 5 orang, dia foto dalam keadaan tersenyum. Kemudian dia cetak dan kelimanya ditaro di dinding depan meja belajarnya. Persis ketika belajar kelimanya tersenyum kepada Helmy. Ketika datang rasa malas belajar karena berbagai alasan, Helmy bisa langsung melihat kelima foto tersebut dan Helmy mendengar seolah-olah mereka berkata, "Hai Helmy, kamu kan dari Indonesia, tidak mungkin kamu bisa selesai kuliah S-2 dalam waktu 1 tahun. Pasti kita-kita yang bule-bule ini yang bisa selesai dengan cepat," pikir Helmy melihat foto mereka yang tersenyum.

Langsung reaksi fisiknya berubah. Helmy dengan tegas dan berapi-api ngomong di kamar sendirian, "Tidak, itu tidak benar. Siapa bilang bule lebih pandai dari aku. Aku harus selesai kuliah S-2 dalam waktu satu tahun. Pasti bisa, pasti bisa." Demikian reaksi Helmy setiap datang rasa malasnya. Hal itu dia lakukan terus menerus dan tepat satu tahun Helmy menyelesaikan kuliah S-2nya dengan nilai terbaik.

Luar biasa, kalau kita mengetahui cara otak ini bekerja dan mendorong diri untuk mengubah satu kebiasaan ke kebiasaan lain yang lebih mendukung masa depan kita, nampaknya setiap orang akan mencapai performa terbaiknya. Kita bisa membuat list kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang sederhana-sederhana terlebih dahulu dan secara bertahap kita ubah dari satu kondisi ke kondisi berikutnya.

Contohnya, kita ingin disiplin bangun pagi. Bisa saja membuat gambaran, kalau selalu bangun kesiangan maka macam-macam penyakit akan datang. Atau kalau kesiangan maka kita tidak bisa janji tepat waktu dengan klien yang bisa
menyebabkan order-order dicancel. Bagi pimpinan sebuah perusahaan, sanksi atas ketidakdisiplinan bisa membuat seseorang malu. Contohnya, apabila datang terlambat atau jarang mengikuti rapat-rapat. Dalam pertemuan bulanan diumumkan siapa-siapa saja yang jarang mengikuti rapat dan berapa hari absen dalam rapat. Kalau catatan tersebut diumumkan di forum, maka yang bersangkutan akan menanggung rasa malu yang luar biasa. Dan dipastikan di bulan berikutnya dia tidak akan mau lagi menanggung rasa malu yang besar tersebut di depan teman-temannya. Sementara yang rajin diberi reward atau penghargaan.

Setelah selesai mengubah satu kebiasaan, kita bisa beranjak untuk mengubah kebiasaan berikutnya. Misalnya saja, kreatif dan banyak ide dalam tiap pertemuan, menepati janji, menambah teman baru satu hari satu orang, selalu keluar rumah dengan doa dan membawa jadwal harian, selalu tersenyum setiap bertemu dengan siapapun dll. Apa yang bakal terjadi ketika kita selalu mengubah kebiasaan-kebiasaan baru yang baik? Akumulasi mengubah kebiaasaan tersebut tanpa kita sadari, kita menjadi orang yang hebat dan luar biasa. Istilah asingnya menjadi Great Person. Great Person adalah seseorang yang selalu mengubah kebiasaan menjadi baik dan mempertahankannya tapi tetap merasa harus terus berubah setiap saat.

Budaya ini di Jepang dikenal dengan kaizen (improvement continuously), memperbaiki diri secara terus menerus, tidak pernah berhenti, tidak pernah merasa puas berubah untuk menjadi baik. Selalu berubah ke arah yang lebih baik menjadi visinya. Bagaimana dengan Anda? Bisa jadi Anda sudah menerapkan lebih dahulu prinsip-prinsip di atas, kalau belum mari kita mengubah diri kita ke arah yang lebih baik. Konon katanya, satu kebiasaan akan menetap di alam bawah sadar kita apabila dilakukan 21 hari secara berturut-turut.

Yang perlu dihindari adalah ketika ingin berubah datang godaan. Sebesar apapun godaan yang datang, milikilah prinsip yang kuat, lebih baik kita menunda suatu kesenangan saat demi menyongsong kenikmatan yang panjang di masa yang akan datang. Ketimbang kita tergoda dengan kenikmatan sesaat, tapi akan menjadi penderitaan seumur hidup. Pilih yang mana? Anda yang lebih pandai untuk membuat keputusan. (ade asep syarifuddin)


*) Ade Asep Syarifuddin adalah GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 komentar :

  1. Terima kasih Mas Asep tulisannya dan telah berbagi. Salam Sukses Berkelimpahan

    ReplyDelete