No Mind, Hidup dengan Inspirasi













SUATU hari si rendah hati duduk di taman belakang rumahnya. Di kejauhan terlihat sebuah gunung tinggi menjulang. Sambil menikmati sejuknya hawa sore ia merenung tentang perjalanan hidupnya dari kecil sampai dewasa. Dia merasa bahwa hidupnya belum betul, masih banyak kesalahan-kesalahan yang dilakukan. Hatinya belum merasa plong, belum lega. Terasa masih ada ganjalan ketika memegang dadanya.

Dia memiliki cara-cara sendiri untuk mengukur apakah yang dilakukannya itu sudah benar atau belum. Ia coba tarik nafas dalam-dalam berulangkali, apakah setiap tarikan nafas itu terasa lembut dan lega, atau setiap tarikan nafas terasa seperti ada kerikil yang menyumbat. Kalau nafas yang keluar masuk terasa lega, ia bisa menyimpulkan bahwa sampai hari itu dia telah berbuat yang benar. Sementara ketika tarikan nafas terasa seperti ada endapan, sesak atau sesuatu yang tidak enak lainnya, ia bisa memastikan bahwa sampai hari itu perbuatan dan pikirannya sedang kacau. Paling tidak berpikir yang negatif.

Ia mencoba untuk meneliti segala perbuatannya yang selama ini dia lakukan. Pertanyaan yang pertama yang dia lontarkan pada dirinya adalah, apakah segala perbuatan yang telah dilakukannya sudah benar
atau belum? Ah ini pertanyaan sulit. Kalau benar menurut siapa? Dan kalau salah menurut siapa? Selama ini yang bisa mengatakan benar dan salah hanyalah Pak Hakim, Pak Polisi, KPK atau bahkan Pak Hansip. Tapi itu terjadi pada perbuatan yang jelas-jelas melanggar undang-undang atau KUHAP. Terus yang mengadili pikiran negatif siapa ya?

Wah itu belum ada hukumnya dan belum ada yang dirugikan. Siapa bilang belum ada yang dirugikan. Ketika kita berniat jelek pada seseorang sekecil apapun jelas-jelas akan merugikan tubuh kita. Misalnya saja iri kepada kekayaan orang, dengki kepada prestasi tetangga. Ini jelas merugikan kita sendiri. Dalam waktu yang cukup lama iri dengan dengki serta benci itu bisa jadi penyakit kalau tidak dilepaskan. Mestinya ada hukum yang memvonis niat. Kalau kita berniat buruk maka harus ada vonisnya. Siapa hakimnya? Ya kita sendiri. Hukumannya apa? Bermacam-macam, yang jelas dengan hukuman tadi membuat kita kapok dan tidak mengulangi lagi.

Si rendah hati mencoba-coba mengidentifikasi apa saja sih yang membuat seseorang itu berbuat kesalahan. Kesalahan bukan dalam pengertian hukum positif, tapi kesalahan yang bisa membuat seseorang terhambat atau tersabotase. Ia berpikir keras sebenarnya siapa yang paling bertanggung
jawab terhadap perbuatan kita. Kaki kita? Bukan. Tangan kita? Bukan. Mata kita? Bukan. Terus siapa? Pikiran? Ya... ya.... betul pikiran kita. Sumber segala sumber persoalan adalah pikiran kita. Pikiran
persis seperti srigala liar, atau tepatnya apa ya.... Yang jelas sangat liar, dalam satu waktu bisa berpikir bermacam-macam hal. Dan sama sekali tidak bisa dikendalikan. Ketika pikiran memikirkan sesuatu siapa
yang bisa mencegah dan menghentikan yang dipikirkan?

Terus kesalahan pikiran di mana? tanya si rendah hati pada dirinya lagi. Coba saja evaluasi dosa-dosa besar pikiran. Pernah melihat orang yang pakaiannya compang-camping? Apa pendapat pikiran kepada orang yang berpakaian compang-camping tadi. Wah... hati-hati ada orang gila, awas diserang. Ternyata dulu pernah punya pengalaman diserang orang gila dengan pakaian yang persis sama. Ini berarti, pengalaman yang pernah terjadi menjadi rujukan kebenaran. Padahal tidak semua pengalaman yang pernah terjadi dan terjadi lagi di kemudian hari menjadi sama akibatnya. Jadi belenggu pertama pikiran yang perlu dikoreksi adalah belenggu pengalaman.

Terus kesalahan pikiran yang lainnya apa? Dosa pikiran yang kedua adalah, keterikatan pada materi. Coba lihat seorang kaya raya yang bergelimang harta. Bagaimana sikap mental orang-orang yang memiliki harta banyak? Apakah dia semakin rendah hari atau malah sebaliknya. Kalau dilakukan penelitian, hampir 70% orang yang memiliki harta lantas dia berubah sikap. Apalagi kekayaan yang dia miliki tidak dibarengi dengan kekayaan mental. Cenderung sombong, merendahkan orang lain,
apabila ada orang yang terlihat miskin datang ke rumahnya dia akan berpikir bahwa orang tersebut akan meminta hartanya.

Si rendah hati terus mencari lagi kesalahan-kesalahan pikiran. Dan dia berhasil menemukan yang ketiga, dosa besar pikiran adalah belenggu persepsi atau tafsiran yang keliru. Pernah melihat sebuah gambar gadis cantik usia 17 tahun dan nenek tua 70 tahun di buku Seven Habit karya Steven R Covey? Dari satu persepsi atau sudut pandang gambar itu adalah gadis cantik usia 17 tahun, sementara dari sudut pandang yang lain gambar itu adalah nenek-nenek tua. Mana yang benar? Dua-duanya benar, jelas kita tidak bisa mengatakan satu pendapat saja. Ini baru terjadi pada sebuah gambar, bagaimana kalau terjadi pada tafsiran agama? Bisa-bisa semua orang yang berbeda tafsir dengan dirinya dianggap kafir semua, atau salah semua. Wah bisa bahaya ini. Bencana dan perang bisa terjadi di mana-mana, bahkan anak bisa memusuhi orang tuanya gara-gara memiliki tafsir yang berbeda atas ajaran agamanya. Ini sudah terjadi di sekeliling kita. Pikiran dalam kasus ini benar-benar menjadi bumerang bagi lingkungnanya.

Terus masih adakah kesalahan-kesalahan pikiran yang lain? Nah ini yang berikutnya, terlalu percaya kepada pikiran Anda juga merupakan kesalahan dari pikiran. Dengan kata lain, kita menuhankan pikiran kita sendiri. Kok begitu? Kalau bukan percaya kepada pikiran lantas kepada siapa? Bukan itu masalahnya, kita boleh percaya kepada pikiran tapi jangan 100% percaya. Setelah diteliti pikiran itu memiliki banyak kelemahan-kelemahan, pikiran itu memiliki kekurangan-kekurangan. Bahkan untuk kelompok-kelompok tertentu seringkali pikiran digunakan untuk memprovokasi kelompok-kelompok tertentu untuk mendukung dan menghujat kelompok lain. Wah... ini sudah permusuhan. Tidak ada lagi perdamaian.

Pertanyaan terakhir, ketika kita sudah tidak lagi percaya kepada pikiran yang seringkali memanipulasi fakta dan data, lantas kita percaya kepada siapa? Ini pertanyaan sulit yang tidak bisa langsung dijawab. Si rendah hati merenung, dia tidak berpikir, dia mencari kedamaian, dia pasrah, dia ikhlas, dia meminta petunjuk, dia tertidur. Dalam tidurnya itu ia bertemu dengan seorang sepuh yang arif bijak.
Dalam gambarannya orang tadi berpakaian serba putih dan selalu memancarkan sinar bahagia dan senyuman.Si rendah hati bertanya, "Bapak yang bijak.... saya sedang bingung. Saya meminta pencerahan. Setelah dievaluasi secara seksama, ternyata pikiran adalah sumber persoalan negatif di dunia ini. Padahal saya tidak bisa lepas dari pikiran barang sedetik pun. Lantas apa yang harus
saya lakukan. Saya seperti terbelenggu pikiran dan tidak bisa lari darinya."

Si bapak bijak tersebut tersenyum dan menatap dalam-dalam si rendah hati. Dia tidak lantas menjawab, dia menghela nafas dalam-dalam. Dia menatap langit yang mendung. Terlihat mendung tersebut diterpa angin dan menghilang. "Anakku.... Engkau melihat langit dan awan di atas sana? Langit dan mendung itu seperti menyatu, tapi sadarilah bahwa langit tersebut sama sekali tidak merasa memiliki awan tadi. Suatu hari awan tadi seperti menyatu dengan langit, tapi ketika yang lain awan tersebut pergi entah ke mana."

"Apa hubungannya dengan pertanyaanku bapak bijak....?" tanya si Arif bijak makin bingung. "Engkau memiliki pikiran, memiliki pendapat, memiliki pengalaman, memiliki tafsir dan persepsi, memiliki literatur
dan referensi yang cukup banyak. Tapi jangan sekali-kali semua itu menjadikan engkau lupa bahwa semua itu hanya sebuah tangga cerita, hanya sebuah file yang pernah terjadi. Karenanya semuanya itu jangan dijadikan satu-satunya sumber dan rujukan kebenaran."

"Kalau begitu siapa yang dijadikan rujukan kebenaran kalau pikiran ini sumber persoalan?" tanya si rendah hati lagi. Ini spirit hidup yang harus menjadi pegangan kita. Jadikan inspirasi sebagai petunjuk hidup, dan janganlah memori baik dalam bentuk pengalaman, persepsi, tafsir dan belenggu-belenggu lainnya dijadikan pegangan hidup. Inspirasi itu ada dalam hati yang bersih, rasa yang bersih, maka bersihkanlah dirimu setiap saat supaya inspirasi itu juga datang setiap saat. Inspirasi itu adalah kabar yang benar sampai-sampai pikiran terkadang tidak bisa menangkap apakah yang muncul itu inspirasi atau memori," katanya."Tapi, lanjut bapak bijak tadi, memori itu berasal dari kejadian masa lalu, pengalaman masa lalu, pengaruh masa lalu yang ikut serta mempengaruhi keputusan kita pada masa sekarang. Sementara inspirasi adalah berupa suara atau bisikan atau ada yang mengatakan ilham, indra
keenam dll. Tapi memang inspirasi itu bisa datang dengan beberapa catatan. Catatan yang pertama kalau kita sudah berusaha terus menerus membersihkan diri kita dengan berbagai macam cara. Kalau Joe Vitale dalam bukunya Zero Limits dengan cara mengatakan secara berulang-ulang kata-kata pembersihan berupa kata-kata 'Saya mengasihi Anda, Saya menyesal, Maafkan saya dan Terimakasih.'

"Dalam ajaran yang lain Islam misalnya, juga mengajarkan istilah istighfar (maafkan saya), syukur (terimakasih), mencintai sesama, menyesal terhadap segala dosa. Juga ajaran agama yang lain
hampir-hampir sama. Itulah proses pembersihan diri secara terus menerus untuk menge-nol-kan pikiran (No Mind). Bukan tidak punya pikiran, tapi pikiran sudah sangat bersih, sehingga yang keluar hanyalah inspirasi, kata-kata bijak penuh makna yang dalam untuk kebaikan dan kedamaian dunia ini."

Si rendah hati terbangun. Ia bermimpi tapi seperti tidak bermimpi karena yang dia lihat sangat jelas. Tapi dari sana dia menemukan jawaban atas segala gundah gulana pikirannya. "Saya memiliki pikiran yang sangat hebat, tapi saya harus menjaga pikiran agar sesuai dengan tujuan penciptaan awal, menyebarkan perdamaian, cinta dan kasih sayang, dan rasa syukur. Saya harus meng-nol-kan pikiran terus menerus sehingga yang keluar adalah inspirasi dan bukan hawa nafsu. (ade asep syarifuddin)

Salam kedamaian, saya mencintai Anda, saya mengasihi Anda, saya menyesal, maafkan saya. Sukses selalu buat Anda. Penulis Gm Radar Pekalongan (*)
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment