Penyakit Menunda-nunda Pekerjaan



Oleh Ade Asep Syarifuddin

SIANG itu pekerjaan Andi belum selesai. Padahal kalau melihat kalender sudah menunjukkan tanggal 30 Desember. Waktunya untuk melakukan laporan akhir tahun kepada pimpinannya. Tapi entah mengapa pekerjaan Andi masih numpuk di sana-sini. Bahkan tugas bulan kemarin saja ada yang belum selesai. Padahal dia udah lembur satu minggu, bekerja siang dan malam untuk menuntaskan pekerjaannya. Mengapa sampai terjadi demikian? Ternyata Andi memang dikenal di kantor tersebut sebagai orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Yang mestinya dapat dikerjakan hari ini, dia tinggalkan sampai esok hari. Ternyata besoknya cukup banyak juga pekerjaan yang mesti dituntaskan. Mestinya pekerjaan hari itu selesai hari itu juga, Andi malah menunda-nunda. Padahal esok hari memiliki jenis pekerjaan yang berbeda dan harus diselesaikan hari itu juga. Akhirnya makin hari utang pekerjaan makin banyak dan menumpuk sampai pada saatnya dilaporkan malah kebingungan, stress berkepanjangan atau bahkan bisa saja jatuh sakit..

Apakah kita juga termasuk pengikut kebiasaan di atas? Menunda pekerjaan, bentar, besok, nanti, masih ada waktu kok dll alasan yang berupaya melakukan pembenaran terhadap segala tindakan kita penundaan pekerjaan tadi, padahal resikonya cukup berat. Pengalaman membuktikan bahwa tidak ada kenyamanan bagi orang-orang yang selalu menunda-nunda pekerjaan. Yang ada hanyalah rasa gelisah dan perasaan takut-takut dikejar target. Hasil pekerjaannya sudah bisa ditebak, tidak ada yang baik. Bagaimana mau baik dan berkualitas kalau dikerjakan dengan cara yang tergesa-gesa? Yang paling tepat adalah pekerjaan hari itu selesai untuk hari itu juga. Akan lebih baik kalau pekerjaan besok sudah mulai digarap pada hari ini. Bila kita membiasakan diri melakukan sesuatu secara disiplin apakah sulit? Tentu tidak, malah jauh lebih memudahkan kita sendiri. Memang awal melakukan disiplin butuh kerja keras untuk mengubah kebiasaan, tapi selanjutnya malah lebih terasa ringan. Baca juga Belajar Disiplin, Mulai dari Mana?

Untuk mendisiplinkan diri diperlukan beberapa syarat;
Pertama, Manajemen waktu. Waktu tidak pernah kembali barang sedetik pun, setiap hari waktu kita menjadi berkurang. Contoh, kalau kita diberikan umur hidup 70 tahun, sekarang berusia 30 tahun, maka sejak detik ini kita sedang menghitung mundur 40 tahun detik demi detik menuju 70 tahun tadi. Bila satu jam saja dalam setiap hari kita melakukan wasting time, bisa dihitung dalam satu bulan --- dengan asumsi sebulan 30 hari--- sudah 30 jam. Dalam satu tahun sudah 30 x 12 bulan = 360 jam. Itu kalau satu hari satu jam, bagaimana kalau lebih dari satu jam, 5 jam mungkin, 6 jam atau bahkan wasting time berjam-jam untuk melakukan sesuatu yang tidak jelas kegunaannya. Betapa banyak waktu kita yang dibuang sia-sia tanpa ada manfaat yang berarti. Banyak orang yang mengatakan pekerjaannya terlalu menyita waktu sehingga kesulitan dalam menyelesaikannya tepat waktu. Alih-alih selalu muncul dalih dan alasan sebagai wujud pembenaran terhadap sikapnya.

Kedua, Lakukan yang penting, tinggalkan yang tidak penting. Ada baiknya kalau kita memiliki program mingguan yang mem-break down kegiatan sehari-hari mulai Senin sampai Minggu. Tulis target minggu tersebut apa saja yang ingin dicapai kemudian tuangkan ke dalam aktifitas harian dalam minggu tersebut. Kontrol terhadap aktifitas sangat mudah kalau sudah ada catatan dalam agenda kita. Ada sebuah buku yang cuku bagus berjudul Agenda Refleksi dan Tindakan, untuk Hidup yang lebih Baik karya Andrias Harefa. Awalnya saya pikir seperti buku-buku lainnya ternyata di dalamnya adalah agenda satu tahun yang dipilah-pilah menjadi program pribadi bulanan, mingguan dan harian. Di sana ditulis daftar keinginan yang hendak kita capai dalam hidup ini, ada sekitar 40 item, kemudian daftar kedua adalah hal-hal yang dapat diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan dan dinikmati sebelum ulang tahun terdekat. Dan selanjutnyua adalah daftar tujuan satu minggu dalam hal keuangan dan karier, kesehatan tubuh, keluarga dan kerohanian, sosial dan emosional dan pengembangan diri. Buku ini hanya salah satu contoh saja, bisa menggunakan bahan lain untuk mencapi tujuan-tujuan kita. Yang penting, kita mampu memetakan daftar tujuan yang sudah ditetapkan dan ulet untuk menyelesaikan hari demi hari sampai tiba saatnya.

Ketiga, Delegasikan pekerjaan yang bisa dikerjakan orang lain. Orang yang hebat bukanlah orang yang mengerjakan seluruh pekerjaan yang ada. Tapi, orang yang mampu mendelegasikan pekerjaan sesuai dengan porsinya masing-masing. Ini berlaku dalam perusahaan dan organisasi. Pekerjaan menulis serhakan kepada sekretaris, pekerjaan yang berkenaan dengan uang serahkan kepada bendahara dll. Memang dalam beberapa hal ada beberapa pekerjaan yang kita sendiri yang harus mengerjakan karena pertimbangn waktu, tidak ada orang yang mengerajkan dan pertimbangn lain. Tapi hal ini kan tidak dikerjakan setiap hari. Intinya, kalu ada pihak yang lebih bertanggungjawab untuk mengerjakan pekerjaan tersebut, mengapa harus kita yang mengerjakan?

Keempat, Anggap setiap hari merupakan hari baru, perencanaan baru, semangat baru. Kerjakan sesuatu secara menyenangkan, sehingga banyaknya pekerjaan bukan menjadi penghalang untuk bersemangat. Coba ingat-ingat masa muda dulu ketika berpacaran dengan ibunya anak-anak. Hampir setiap minggu datang untuk "wakuncar", tidak mengenal hujan, panas atau penghalang lainnya, langkah demi langkah terasa menyenangkan, itu dilakukan karena ada rasa cinta dalam hati kita untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Artinya, pekerjaan apapun tidak akan terasa berat apabila dilandasi rasa cinta. Masalah menunda-nunda pekerjaan dengan dalih apapun sama sekali tidak akan terjadi. Semuanya dilakukan dengan senang hati dan perasaan yang riang. Tapi, bagaimana agar kita mencintai seluruh pekerjaan yang kita lakukan? Sudah tentu tidak semua orang dapat melakukan itu.

Ini sudah dalih lagi. Tapi harus dikstakan secara jujur bahwa pekerjaan yang kita lakukan sekarang tidak semuanya pekerjaan yang kita cintai. Kita sangat mendambakan menjadi seorang sekrataris, namun mengapa kita malah menjadi selles promotion girl (SPG). Satu sisi peluang sekretaris tidak kunjung muncul, tapi di dengan kita ada peluang lain. Dengan pertimbangan daripada nganggur lebih baik bekerja walaupun tidak sesusai hati nurani. Mestinya, ketika sudah memasuki suatu pekerjaan niatan kita harus diubah. Tidak hanya asal bekerja, tapi memang ini pekerjaan yang harus digeluti dan dicintai apapun kondisinya. Bukankah bekerja itu adalah belajar yang dibayar? Kalau niatnya sudah demikian, suatu ketika ada peluang baru yang lebih sesuai dan kita bisa mengambil jenis pekerjaan tersebut bisa saja pindah ke tempat baru. Ingat teori tangga, untuk naik ke tangga yang lebih tinggi maka tangga yang lebih rendah tetap dijadikan pijakan, demikian selanjutnya sam pai meraih tangga yang terakhir. Bukankah hidup ini adalah meniti detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, bulan demi buln, tahun demi tahun, kesulitn demi kesulitan. Semuanya adalah proses untuk menghantarkan kepada tujuan kita, kebahagiaan di dunia ini dan di akhirat kelak. Dengan demikian, disiplin merupakan salah satu watak orang-orang sukses. (*)

*) Penulis GM harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment