Semakin Banyak Memberi Semakin Banyak Menerima


















KALIMAT di atas bisa jadi merupakan pepatah klasik yang sudah banyak diketahui. Tapi apakah implementasinya sudah dirasakan semua orang? Belum tentu dan tidak semua bisa merasakan. Berbahagialah orang-orang yang sudah membuktikan dan mengalami sendiri pepatah di atas.

Saya punya sedikit cerita di tempat saya bekerja. Prinsip saya dalam mengelola perusahaan adalah jangan pernah menahan hak karyawan, kalau sudah saatnya diberikan ya harus diberikan. Bahkan bila perlu kita memberi lebih banyak daripada aturan yang sudah ada. Ya contoh sederhananya adalah kenaikan gaji, pemberian bonus, pemberian reward dll. Kalau dilihat dari nilainya menurut saya tidak banyak-banyak amat, tidak mengganggu cash flow. Hanya keinginan untuk memberikan hak karyawan tepat waktu bukanlah kerjaan mudah. Tidak semuanya siap muntuk melakukan itu.

Tapi anehnya, semakin sering memberi (misalnya saja reward kepada karyawan terbaik tiap bulan), saya merasakan semakin meningkat omzet dan kas perusahaan. Entah bagaimana merumuskannya. Yang jelas perusahaan menjadi jauh lebih sehat dan omzet dan laba terus meningkat. Logika akuntansi manusia dipatahkan dalam kasus ini.

Sementara saya punya pengalaman lain. Sebuah perusahaan selalu mengundur-undur waktu kenaikan gaji walaupun sudah di awal tahun. Bonus karyawan pun bukan prioritas. Banyak yang bertanya kapan ada pembagian bonus, dijawab dengan marah-marah. Bukannya dijelaskan secara baik-baik. Tapi anehnya semakin ditahan kenaikan gaji dan bonus karyawan, semakin tipis kas perusahaan dan semakin kelimpungan membayar kewajiban-kewajiban, harus utang sana dan utang sini.

Sampai di sini saya mencoba untuk merenungkan cara alam ini bekerja. Ketika kita melakukan langkah yang pertama; memberi bonus tepat waktu, menaikkan gaji karyawan tepat waktu maka muncul sikap percaya pada perusahaan. Selain itu muncul juga rasa gembira, harapan ke depan bahwa nasib mereka akan semakin baik. Kondisi itu tidak hanya dimiliki oleh karyawan. Mereka juga menceritakan kembali kepada keluarganya, istrinya, anaknya dengan suka cita.

Dan dari situ muncullah doa dari mulut satu karyawan dan keluarganya. Kalau perusahaan tersebut memiliki 30 orang karyawan, maka diperkirakan doa yang keluar karena kegembiraannya minimal dua kali lipat atau sekitar 60 orang. Belum lagi kalau mereka bercerita kepada orang tua masing-masing satu orang saja berarti bertambah 60 orang lagi. Ada sekitar 120 orang yang mendoakan agar perusahaan jauh lebih baik, lebih maju, lebih untung. Mengapa didoakan? Perusahaan tadi cukup transparan dan karyawan percaya dan berani menggantungkan nasibnya kepada perusahaan. Tidak heran kalau perusahaan yang fair bisa jauh lebih maju ketimbang perusahaan yang pelit.

Sementara bila yang dilakukan sebaliknya, menahan kenaikan gaji dan bonus yang akan terjadi adalah perusahaan tersebut kian hari kian terpuruk. Kalau mengambil logika di atas, misalnya perusahaan tersebut memiliki 30 orang karyawan, 30 orang tadi mendoakan jelek, istrinya berdoa jelek, orang tua masing-masing berdoa jelek. Maka sudah ada 120 orang yang berdoa jelek kepada perusahaan tadi.

Kalau sudah didoakan jelek oleh banyak orang maka atmosfer udara di kantor perusahaan tadi menjadi negatif, auranya menjadi tidak enak. Orang yang akan datang yang membawa rezeki pun menjadi enggan masuk. Bila kondisi ini dipertahankan terus menerus maka semakin hari akan semakin buruk. Yang ada hanya saling mencaci dan membicarakan kejelekan kerja manajemen di belakang meja.

Semakin menghayati cara kerja hati dan kaitannya dengan sehat dan tidaknya perusahaan, saya semakin sadar bahwa karyawan adalah asset terbesar yang harus terus menerus dipelihara dan dididik agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Di sisi lain mungkin seseorang bertanya, apakah semua karyawan yang diperlakukan fair seperti di atas. Kan ada saja karyawan yang tidak baik, indisipliner dan kerja seenaknya.

Kalau ada karyawan seperti itu dan tetap dibiarkan itu bukan kesalahan karyawan. Tetap kesalahan manajemen. Bila ada karyawan tipe tersebut langkah pertama adalah ditegur dan dididik supaya berubah. Kalau dalam kurun waktu tertentu tidak berubah juga ya harus diamputasi. Tapi proses memperbaiki harus ditempuh dulu, jangan langsung pecat begitu saja.

Oke, ini memang hanya pengalaman individu yang belum tentu juga dialami oleh orang lain. Tapi sedikitnya kita bisa menyimpulkan bahwa kita tidak akan menjadi kaya dengan cara menyimpang uang rapat-rapat di bawah kasur. Dan kita juga tidak akan bertambah makmur dengan cara memotong hak-hak orang lain. Sukses Selalu. (*)
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment