Suami-Istri Bertengkar Gara-gara Tidak Paham Gaya Belajar

Oleh Ade Asep Syarifuddin

PADA suatu hari seorang suami yang memiliki gaya belajar visual pulang ke rumah. Harapannya dia datang disambut istrinya dengan pakaian yang rapi, harum dan enak dipandang mata. Sementara istrinya yang bergaya belajar auditori menginginkan ketika suaminya datang dia mengatakan sesuatu yang menyenangkan, menggembirakan atau keluar kata-kata lembut.Istrinya tidak tahu kalau suaminya visual yang berarti ingin melihat dirinya berpakaian rapi dan enak dipandang mata dan sudah mandi ketika suaminya datang. Sementara suaminya pun tidak tahu kalau istrinya bergaya auditori yang berarti membutuhkan kalimat-kalimat lembut dan terdengar menyenangkan.

Ketika suaminya mengetuk pintu, istrinya yang masih memakai baju tidur membuka pintu. Suaminya melihat istrinya; rambutnya semrawut, bajunya kusut baunya tidak sedap langsung bermuka masam. Keluarlah kalimat," Suami datang bukannya disambut dengan pakaian yang rapi. Malahan berpakaian seperti bangun tidur, kusut dan acak-acakan. Istri yang menyebalkan," kata suaminya.Istrinya yang auditori yang ingin mendengarkan kalimat lembut langsung terperanjat mendengar kata-kata suaminya yang tidak nyaman di telinga. "Mas... datang-datang malahan ngomong yang tidak enak, bukannya cerita yang menyenangkan. Saya tidak suka itu," tutur istrinya.

Pernahkah Anda mendengar cerita seperti itu? Mungkin pernah mendengar. Tapi kalau penyebabnya adalah suami dan istri tidak saling memahami gaya belajar masing-masing, bisa jadi baru kali ini mendengarnya. Kita sebatas menerima informasi ketika ada yang bertengkar mereka salah faham. Gitu saja titik. Tapi salah fahamnya seperti apa kita tidak tahu. Bahkan salah fahamnya terjadi berulang-ulang tanpa mengetahui akar persoalannya.

Apakah gaya belajar Anda? Paling tidak ada tiga atau lebih gaya belajar. Gaya belajar auditori, kinestetik dan visual. Dalam kasus tertentu ada gabungan gaya belajar seperti audio visual, audio kinestetik, atau kinestetik visual. Ada juga yang lengkap, audio-visual-kinestetik.Orang yang memiliki gaya audio, dia lebih nyaman ketika menerima sumber informasi, ilmu pengetahuan atau yang masuk ke dalam dirinya lewat telinga. kata-kata favorit yang nyaman adalah terdengar, suara, volume, bisik-bisik. Biasanya mereka lebih suka musik daripada melihat pemandangan, lebih suka mendengarkan ceramah daripada membaca buku, lebih suka mendengarkan radio daripada jalan-jalan.

Sementara orang visual, sumber pengetahuan yang nyaman melalui matanya. kata-kata favoritnya adalah melihat, cahaya, terang, jelas, dll. Hal-hal yang berkenaan dengan pengelihatan. Mereka lebih suka menonton film daripada jalan-jalan atau mendengarkan radio. lebih suka melihat pemandangan daripada mendengarkan musik.

Untuk kinestetik, orang yang bergaya ini sama sekali tidak mau diam. Tubuhnya ingin selalu bergerak. Pernah melihat anak TK yang tidak nyaman duduk di bangku dan inginnya berlari-lari terus menerus? Kalaupun duduk atau diam, pasti anggota tubuhnya baik tangan atau kaki selalu bergerak-gerak. Jangan kaget kalau ada yang seperti itu karena mereka bergaya kinestetik. Orang ini kalau diajak jalan-jalan baru nyaman, kalau diajak bermain olahraga yang membutuhkan gerakan fisik sangat senang bahkan lupa waktu.

Kalau yang audio kinestetik biasanya suka ngobrol sambil jalan-jalan. Ada orang yang ngobrol di perjalanan apakah di motor atau di mobil, bahkan ada dua buah motor yang berdampingan jalan pelan di jalan raya. Hal itu sangat mengganggu lalulintas. Tapi mereka sangat nyaman dengan ngobrol seperti itu karena gaya mereka audio kinestetik (ngobrol sambil bergerak). Orang yang audio lebih nyaman kalau ngobrol sambil duduk di satu tempat.

Sementara yang visual kinestetik adalah, anak main layangan. Tangannya bergerak-gerak supaya layangannya tetap pada posisi yang aman, sementara matanya tetap melihat ke satu titik. Dan ketika ada layangan putus, mereka lari sekuat tenaga sambil fokus matanya tetap melihat arah layang-layang yang putus. Kok bisa? Ya sangat bisa karena gayanya begitu.

Manfaat memahami gaya belajar lawan bicara adalah, kita bisa semaksimal mungkin membuat orang yang yang diajak bicara nyaman. Dan yang lebih penting lagi, maksud dan tujuan kita bisa tercapai dan disetujui oleh lawan bicara karena kita telah memberi sesuatu yang orang lain tidak berikan, kenyamanan. Bisa dicoba?

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment