Win to Lose Myself (Menang Mengalahkan Diri Sendiri)



Oleh Ade Asep Syarifuddin

SALAH satu penyakit mental manusia yang sangat merugikan dirinya sendiri adalah penyakit membuat alasan atau excuse. Sehingga dengan alasan tersebut menjadi pembenaran bagi dirinya untuk tidak berbuat apa-apa, tidak melakukan apa-apa, tidak disiplin, hidup biasa-biasa saja, tidak termotivasi, tidak bisa mengubah kebiasaan buruk dll.

Apakah kita akan terus menerus dengan kebiasaan buruk tersebut, padahal hal itu sama sekali tidak menguntungkan diri kita sendiri. Sementara di sisi lain kita memiliki keinginan untuk menjadi sukses, lebih bahagia, memiliki kekayaan yang bertambah. Omong kosong belaka, seseorang yang menginginkan hasil yang berbeda namun dilakukan dengan cara yang sama.

Kita harus berubah, mengubah kebiasaan, mengubah cara pandang, mengubah persepsi. Mulailah dari hal yang kecil-kecil dan sederhana, sehingga otak kita terbiasa dengan perubahan. Cobalah kita mengubah rute jalan berangkat dan pulang dengan jalan yang berbeda. Lakukan selama satu minggu. Setelah itu, lakukan lagi di jalan lain yang berbeda. Tidak hanya itu, coba lakukan selama satu bulan, berkenalan dengan orang yang berbeda-beda. jadi dalam satu bulan tersebut kita mempunya kenalan baru sebanyak 20-25 orang. Apa yang kita rasakan?

Di bawah ini ada sebuah cerita inspiratif, no excuse, no alasan, no pembenaran. Kondisi hidup yang ada di masa kecil yang tidak menguntungkan, yang tidak mendukung untuk menjadi sukses, dipatahkan dengan kekuatan impian dan motivasi.


Cerita ini disiarkan dalam acara Ensiklopedia Islam di stasiun Metro TV yang dipublikasikan di youtube.com pada tanggal 11 September 2012. Pembawa acra Sandrina Malakiano mewawancarai seorang tokoh Prof Firmanzah PhD, saat itu Dekan FE UI. Tema yang diambil adalah Kepemimpinan Kaum Muda tentang Kekuatan untuk Survive (The Strength to Survive).

Firmanzah menjadi Dekan termuda di FE UI dia usia 32 tahun. Menjelang usia ke-34 menjadi satu Professor termuda di antara 7 professor termuda di dunia. Hal itu merupakan pencapaian yang sangat luar biasa bagi seseorang. Apa yang menjadi fondasi seorang Firmanzah, sehingga mencapai prestasi yang sungguh luar biasa?

Ibu Firmanzah salalu mengajarkan bahwa Firmanzah harus berani menghadapi realitas. Bayang-bayang, sosok ibu dan kata-kata tersebut selalu ada dalam hati Firmanzah. Menjadi motivasi untuk mencapai cita-cita. Perjalanan hidup Firmanzah pun tidak semulus karirnya sekarang. Usia 2 tahun sudah ditinggal pergi oleh ayahnya, entah pergi ke mana sampai sekarang belum pernah bertemu. Ibunya pun tiga kali menikah dan tiga kali bercerai. Suami pertama memiliki 2 orang anak, suami yang kedua 3 orang anak, dan suami terakhir 4 orang anak. Firmanzah adalah anak ke-8 dari 9 bersaudara. Semuanya dibesarkan oleh ibu. Karakter ibu Firmanzah lumayan keras karena tidak mudah merukunkan saudara dari 3 orang bapak yang berbeda dalam satu rumah.

Kondisi tersebut tidak menjadikan alasan Firmanzah menjadi broken home. Pertanyaannya adalah, mengapa Firmanzah mengambil pilihan untuk berbeda dengan anak-anak kebanyakan? Sejak kecil keluarga Firmanzah sering kali disepelekan dan mendengar ejekan dari orang-orang sekitar. Ejekan tersebut bukannya menjadikan Firmanzah berkecil hati, malahan dalam hatinya ada sebuah janji bahwa masa depannya tidak seperti yang mereka bilang. Di tengah kesusahan dan di tengah kondisi yang tidak nyaman, di tengah-tengah keterbatasan bisa membangun prestasi. Dan semangat itu yang menjadikan keluarga besar Firmanzah terus berjuang untuk bisa bertahan.

Banyak pelajaran yang diberikan oleh ibunya terkait persoalan dunia. Ibunya sering memberikan nasehat, orang yang paling berani di dunia ini bukanlah orang yang turun ke jalan, demonstrasi, atau orang yang dipenjara, tapi orang yang berani menghadapi realitas kehidupan.

Usia 12 tahun saat itu Firmanzah melihat sosok ibu sebagai sosok yang tegar. Namun saat itu malah ibunya menangis di depan Firmanzah dan curhat tentang apa yang dia rasakan, penderitaannya, kesulitan hidupnya. Tidak mudah bagi seorang anak usia 12 tahun mendengarkan cerita seperti itu sebagai partner dan teman diskusi. Di usia 12 tahun juga pernah mengambil raport adiknya yang masih kelas 6 SD, saat itu Firmanzah kelas 1 SMP, berpura-pura seperti orang tua kepada anaknya. Tapi itulah proses pendewasaan. Ketika itu Firmanzah berpikir kalau ada ayah pasti ayah yang ambil raport, kerinduan kepada seorang ayah saat itu tidak pernah tergantikan. Ketika orang tua bercerai, maka yang paling menderita adalah anak-anaknya, terutama apabila proses perceraiannya tidak baik.

Sejak usia 2 tahun sampai sekarang Firmanzah tidak pernah melihat sosok bapaknya. Firmanzah hanya ingin menyampaikan satu kalimat kepada ayahnya kalau bertemu, yaitu, Terimakasih. Ibunya bilang, suatu saat kalau bertemu dengan Bapak ucapkanlah kata terimakasih, karena bagaimana pun itu adalah realitas bapak. Tidak ada rasa benci, marah, sakit hati walaupun ditinggal pergi sejak kecil karena memang demikian proses yang harus ditempuh. Walaupun marah, lari, tidak akan mengubah keadaan.

Kelas 2 SMA pernah ambil raport sendiri, sementara yang lain diambil oleh orang tuanya. Firmanzah hanya menerima dengan keikhlasan, tidak mungkin berputus asa, harus bangkit. Waktu UMPTN ibunya bertanya kuliah dimana, Firmanzah menjawab di ITS, padahal ITS hanya pilihan ke-3. Pilihan pertama di FE UI dan diterima. KUliah sangat cepat, selesai 3,5 tahun, diwisuda di angkatannya hanya sendiri. Firmanzah ingin segera menyelesaikan sarjana karena ibunya sedang sakit keras, harapannya, ibunya bisa datang saat wisuda. Namun ibu meninggal sebelum wisuda.

Dari cerita di atas, tidak ada alasan bagi kita untuk mencari pembenaran bahwa tujuan kita yang belum tercapai berasal dari kekurangan yang kita miliki. Selagi kita mau, kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Milikilah impian mau jadi apa kita kelak satu saat dan milikilah motivasi yang selalu terngiang di bawa ke mana-mana. Motivasi dari seorang ibu akan sangat tertanam sangat dalam di hati dan akan dibawa ke mana-mana. (ade asep syarifuddin)

*) Penulis GM Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment