Giving, Rahasia Menjadi Pribadi yang Menarik


Oleh Ade Asep Syarifuddin

SUATU hari si A kedatangan tamu, katakan namanya si B. Si A mempersilakan si B untuk duduk dan mendengarkan apa keperluan si B. Awalnya si B bicara basa-basi ke sana kemari. Tapi 5 menit kemudian dia membicarakan dirinya sendiri tanpa tujuan yang jelas apakah hanya ingin didengarkan atau meminta pendapat dari si A. Setelah 1 jam si A kemudian bicara secara jelas kepada si B, "Apa yang bisa saya bantu dari cerita panjang lebar yang Anda paparkan tadi?" Dengan rasa kaget si B mengatakan bahwa dia hanya ingin didengarkan. Dan yang lebih penting lagi dia berharap si A memberikan support kepadanya karena selama ini tidak pernah satu orang pun mendengarkan kelebihan-kelebihan dia ketika dia bercerita tentang dirinya sendiri.

Di waktu yang lain, si A kedatangan tamu yang berbeda. Katakan, si C. Ketika duduk dan dipersilakan untuk mengutarakan pendapatnya, si C bercerita sedikit namun cukup dipahami oleh si A. Setelah itu si C bertanya, "Bagaimana menurut pendapat Bapak...? Diberikan kesempatan seperti itu si A menanggapi seperlunya tapi tetap serius. Setelah satu persoalan tuntas didiskusikan si C mengutarkan hal yang lain, kemudian lagi-lagi di bertanya, "Bagaimana menurut pendapat Bapak....?" Sangat berbeda dengan si B yang datang hanya ingin didengarkan saja tanpa memberikan kesempatan apapun kepada si A.

Pernahkah Anda menghadapi orang tipe pertama? Kalau ya, bagaimana respons Anda? Dan pernahkah Anda menghadapi orang dengan tipe yang kedua? Kalau ya apa juga respons Anda? Sejatinya setiap orang itu ingin diapresiasi oleh siapapun. Namun ketika kita terlalu banyak bicara tentang diri kita sendiri, ada perasaan "lain" dari lawan bicara kita. Nara sumber yang paling baik ketika mengungkapkan kelebihan kita adalah orang lain bukan kita sendiri. Ketika kebaikan kita diungkapkan oleh kita sendiri rasa-rasanya kurang pantas untuk diungkapkan. Kalau pun mau bicarakan kelebihan kita seperlunya saja sekadar untuk informasi.

Kemudian apa kaitannya dengan rahasia menjadi pribadi yang menarik? Menjadi pribadi yang menarik itu mudah, ketika mulai bicara dengan siapapun, mulailah untuk membicarakan hal-hal yang menarik dari orang lain terutama lawan bicara dan lupakanlah diri kita sendiri. Berikan dukungan dan semangat kepada orang lain dan lupakanlah untuk meminta dukungan dari orang lain, berikan senyuman yang tulus kepada siapa saja, dan jangan meminta orang lain tersenyum terlebih dahulu. Katakanlah kepada orang lain, "Anda memang luar biasa..." sesering mungkin ketika orang tersebut bercerita tentang prestasi dan kelebihannya. Dan ketika mengakhiri dialog dengan siapapun ucapkanlah salam sukses dengan kata-kata, "Sukses selalu buat Bapak/Ibu, saya sangat senang bertemu bapak pada hari ini, banyak hal baik yang saya petik dari pertemuan ini."

Kenyataan berbanding terbalik dengan harapan. Di dunia ini lebih banyak orang-orang yang kurang diapresiasi daripada orang yang diapresiasi. Akibatnya apa? Karakter orang yang kurang diapresiasi adalah selalu mencari perhatian orang lain. Kalau cara mencari perhatiannya wajar dan masih logis tidak masalah. Namun  kalau mencari perhatiannya sudah pada level mengabaikan orang lain atau menganggap orang lain tidak ada, yang ada hanyalah dirinya sendiri, lambat laun orang-orang akan meninggalkan tipe orang seperti ini. Sayangnya tidak semua orang menyadari bahwa dirinya berada di posisi karakter selalu mencari perhatian. Orang dengan tipe kurang diapresiasi, selalu mencari apresiasi walaupun kadang-kadang temannya melakukan itu hanya dibuat-buat. Pertimbangannya hanya untuk menyenangkan orang tersebut.

Posisikanlah diri kita sebagai orang yang selalu memberi, selalu di atas. Berikan senyuman terlebih dahulu, berikan sapaan menarik terlebih dahulu, berikan uluran tangan dengan bersalaman terlebih dahulu, berikan sesuatu barang, makanan kecil atau apapun ketika kita memiliki lebih banyak. Give... give.... dan give. Berikanlah sesuatu, maka orang lain akan bahagia. Masih banyak di antara kita yang memiliki ukuran kebahagiaan ketika bisa memberi sesuatu kepadaa orang lain. Pribadi yang menarik itu ada dalam giving, termasuk giving attention. Memang ada catatan, giving yang tulus yang harus senantiasa disebarluaskan. Giving yang berharap kembali secepatnya hanya akan membuat si pemberi menyesal. (*)

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 komentar :

  1. Terima kasih Mas Asep telah berbagi. Ada yang bilang Tuhan memberikan kita dua telinga sejatinya untuk lebih banyak mendengar.
    Cerita di atas, sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah, di kantor dlsb.
    Salam Sukses Berkelimpahan.

    ReplyDelete