Belajar Disiplin, Mulai dari Mana?


Oleh Ade Asep Syarifuddin

SATU hari, teman saya mau pergi ke suatu kota menggunakan kereta api. Di tiket tercantum jam keberangkatan pukul 06.30. saya sudah mengingatkan agar datang 30 menit sebelumnya. Entah karena alasan apa, dia tiba di stasiun pukul 07.00. Ketika bertanya apakah kereta "X" sudah tiba atau belum, petugas stasiun menjawab, baru saja berangkat 30 menit yang lalu.

Akhirnya teman saya berangkat menggunakan bus yang biayanya jauh lebih mahal ketimbang kereta api. Dilihat dari jumlah biaya, dia harus mengeluarkan 2 kali lipat biaya bahkan lebih. Sementara bila dia bisa disiplin waktu, datang lebih awal 30 menit sebelum kereta berangkat, dia akan menghemat biaya. Untuk kasus teman yang satu ini, dia tidak pernah menghargai waktu. Atau dia terlambat naik kereta adalah cerminan kebiasaan sehari-harinya yang selalu datang terlambat dalam setiap kegiatan apapun. Logikanya,
kalau sehari-harinya sudah disiplin, sangat tidak mungkin terlambat naik kereta.

Belajar disiplin dan tepat waktu sementara ini masih berkiblat pada orang Jepang. Mereka sangat menghargai waktu, menghargai janji. Sedikit meleset dari janji akan merasa bersalah sangat besar. Mereka tidak pernah meleset dari janji. Datang selalu lebih awal, sebelum waktunya. Semua pekerjaan bisa dilakukan sesuai dengan rencana.

Tidak heran kalau Jepang bisa recovery dalam kurun waktu 5 tahunan setelah di bom atom oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Padahal prediksi Amerika, Jepang bisa recovery dalam waktu 10 tahun. setelahdilihat rahasianya, ternyata Jepang memang recovery dalam waktu 10 tahun. Namun mereka menggandakan kuantitas kerjanya 2 kali lipat lebih lama ketimbang orang pada umumnya.Jepang bekerja tidak kurang dari 16 jam sehari bahkan lebih. Sementara orang pada umumnya bekerja 8 jam sehari. Itu pun terlalu banyak wasting time baik menjawab SMS, membuat status baru dan ngobrol yang tidak memiliki tujuan. Sementara orang Jepang ketika 16 jam bekerja, mereka sangat berkualitas dalam hasil pekerjaannya.

Tengok orang Indonesia secara umum. Rapat jam 8 paling cepat mulai jam 8.30. Itu sudah bagus, saya pernah menghadiri rapat yang molor sampai 2 jam. Terlambat kok sampai 2 jam ya, tidak habis pikir, apa yang menjadi titik persoalan. Biasanya panitia menunggu pejabat penting yang memiliki skedul bejibun dan tidak bisa tepat waktu juga.

Contoh lain, lihat para pelajar yang masuk sekolah pukul 7.00 pagi. Biasanya 15 menit sebelum jam 07.00 jalan raya sangat ramai. Kecepatan kendaraannya juga lumayan tinggi. Mungkin mengejar waktu supaya tidak terlambat. Kalau semuanya berangkat dari rumah jam 6.30, sudah jelas lalulintas akan ramai pada pukul 6.45 dan semuanya ingin tiba sebelum pukul 07.00. Mengapa tidak berangkat jam 06.00 atau jam 06.15. Pasti akan tiba di sekolah dengan perjalanan yang lebih rileks.

Antrian di bank bisa menjadi ukuran contoh disiplin. Jarang terlihat yang nyerobot ke depan kalau dia datang belakangan. Lumayan tertib. Tapi coba lihat ketika antrean membeli makanan, semuanya merangsek ke depan ingin dilayani terlebih dahulu. Bahkan bisa jadi yang datang duluan kesalip sama yang datang belakangan.Bereda ceritanya ketika orang Indonesia pergi ke luar negeri.

Yang paling sederhana ke Singapura misalnya. Ternyata orang kita bisa juga disiplin waktu, disiplin dalam membawa barang yang boleh dan yang tidak boleh. Ini artinya orang kita ketika masuk dalam wilayah disiplin akan disiplin. Tapi akan segera berubah menjadi tidak disiplin kalau kulturnya tidak disiplin. Harus mulai dari mana? Ya dari diri sendiri, tidak usah melihat orang lain. Kita disiplin memang kita memiliki tujuan tertentu dengan modal disiplin. Tanpa modal disiplin, kita akan sangat lama mencapai tujuan-tujuan tersebut. (*)

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment