Lakukan Penyebab, Jangan Kejar Akibat

Oleh Ade Asep Syarifuddin

SEORANG kawan sedang tidak punya uang. Untuk menutupi kekurangan tersebut dia pinjam ke temannya. Sekali pinjam temannya masih oke dengan niat untuk menolong. Namun di kemudian hari ketika dia tidak punya uang, dia mengulangi hal yang sama. Teman yang diminta bantuan untuk pinjaman uang jadi kaget dan terheran-heran. Minjam kok terus-terusan. Sementara dia sendiri tidak siap kalau untuk dijadikan tempat bergantung.

Di tempat yang lain berbeda lagi ceritanya. Seseorang ketika tidak punya uang, malah nekat mencopet uang seorang penumpang angkutan umum. Demikian halnya dilakukan secara berulang-ulang. Sampai-sampai dia pernah dipukul habis-habisan karena ketika mencopet ketahuan oleh penumpang yang lainnya. Namun dia tidak kapok, walaupun pernah masuk penjara, setelah keluar mengulangi perbuatan yang sama.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena kedua orang tersebut di atas melawan hukum universal atau sunatullah. Hukum itu adalah hukum sebab-akibat. Uang itu adalah akibat, bukan penyebab. Kalau ingin mendapatkan uang, maka lakukan penyebabnya, maka uang akan datang dengan sendirinya. Jangan malah langsung mengejar akibat. Kalau kita langsung mengejar akibat, ini yang dinamakan menempuh jalan pintas. Ingin mendapatkan sesuatu tapi tidak mau bekerja keras terlebih dahulu.

Siapapun orangnya yang melawan hukum sebab akibat ini akan menghadapi resiko-resiko. Mulai dari resiko yang paling tidak beresiko sampai resiko yang sangat besar. Resiko yang tidak beresiko adalah tidak punya uang terus menerus karena malas. Selamanya tidak punya uang, mengandalkan orang lain, mengandalkan belas kasihan orang lain. Hidupnya menjadi masalah atau trouble maker baik bagi dirinya maupun untuk orang lain. Sementara resiko yang sangat beresiko adalah harus berurusan dengan penegak hukum karena kita melanggar aturan hukum.

Bagaimana dengan cita-cita dan ambisi? Ingin kaya raya, ingin menjadi direktur, ingin menjadi big bos, ingin memiliki mobil mewah? Ingin memiliki rumah mewah? Tidak ada larangan untuk mencapai hal tersebut di atas. Yang terlarang adalah kaya tanpa usaha, kaya tanpa penyebab. Mendapatkan jabatan tertentu karena kolusi bukan karena kemampuan, mendapatkan barang-barang mewah karena korupsi bukan karena hasil kerja keras dari uang yang halal. Itu yang melanggar hukum sebab-akibat.

Tidak heran kalau ada sebagian orang yang memiliki prinsip, yang penting kerja keras, kerja cerdas, kerja serius. Hasil atas kerja tersebut diterima saja secara mengalir. Uang yang banyak, jabatan yang tinggi, kekayaan yang ada merupakan konsekuensi logis (akibat) dari sebuah pekerjaan. Kalau pekerjaannya benar, sungguh-sungguh dan dilakukan pantang menyerah, maka hasilnya juga pasti akan baik pula.

Di dunia ini tidak ada yang bisa dipercepat, tidak ada yang bisa dipersingkat. Kalaupun dipercepat dan dipersingkat, ada batas minimal waktu yang harus ditempuh. Mengendarai motor 125cc, paling cepat 110 km per jam. Kecepatan lebih dari itu tidak akan support mesinnya. Dan mengendarai paling lambat adalah 5 km per jam. Kurang dari itu motor tidak akan bergerak maju.

Bagaimana kalau dipercepat seperti buah-buahan dikarbit? Bisa saja, tapi hasilnya akan berbeda dengan yang matang alamiah. Dan dampaknya akan lebih cepat busuk daripada yang matang alami. Manusia juga kalau dikarbit akan cepat busuk. Contoh, menempati posisi yang lebih tinggi, padahal kemampuannya belum sampai di situ, maka  satu ketika orang tersebut akan menyerah juga dan tidak mampu untuk mengemban amanah. Kalaupun dipaksakan tetap pada posisi tersebut dengan kemampuan yang tidak memadai, pasti perusahaan tersebut yang akan menjadi korban.

Jadi lakukan saja sesuai aturan main yang ada, sesuai dengan SOP yang berlaku, sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Kalau kita ingin naik ke sebuah tempat, syaratnya adalah melangkah dari tangga pertama sampai tangga ke 100, maka langkahilah tangga demi tangga satu per satu sampai selesai. Bagaimana kalau melompati 2 atau 3 tangga sekaligus, tidak satu per satu. Untuk dua atau tiga lompatan pertama mungkin saja bisa dilakukan, tapi pada lompatan yang ke 5, 6 atau ke 10, maka kaki kita akan terasa lemas dan tidak bisa lagi melangkah. Inilah yang namanya sabar. Menempuh langkah demi langkah terus menerus, tidak pernah mengenal lelah sampai tujuan tercapai. Selamat mencoba. (*)

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

1 komentar :

  1. Assalamualaikum wrb,perkenalkan saya Sinta dari Padang saya pengusaha properti,saya ngin berbagi pengalaman kepada teman2 semua,dulu saya hanya penjual jamu keliling,hidup susah penghasilanpun hanya bisa untuk makan,saya punya anak tiga suami tinggalkan saya pada saat kelahiran anak saya yang ke 3.putus asa sempat terlintas dipikiran saya,tapi saya harus berjuang demi anak2 saya,tidak sengaja saya buka internet dan saya lihat no aki guntur,saya coba telpon beliau,saya dikasi solusi tapi saya ragu untuk menjalankannya tapi saya coba beranikan diri mengikuti saran beliau syukur alhamdulillah sekarang saya bisa sukses seperti ini usaha properti saya terbilang sukses,sekarang semua anak2 saya sekolah dan sudah ada yang sarjana,terimah kasih saya ucapkan pada aki guntur berkat anda saya bisa seperti ini,khusus untuk room ini terima kasih karna saya bisa berbagi pengalaman,untuk teman2 yang mau seperti saya atau yang sedang dalam kesusahan khususnya yang terlilit hutang banyak silahkan hub aki guntur di nmr 082281871557 insya Allah dikasi solusi,ini pengalaman saya nyata dan tidak ada karangan apapun sumpah atas nama Allah,salam persaudaraan,WAssalam

    ReplyDelete