Jamu Pahit Itu Menyehatkan

Oleh Ade Asep syarifuddin

SIAPA yang pernah minum jamu godogan? Bukan jamu gendong keliling atau depot jamu yang berada di pinggir-pinggir jalan. Keduanya menyajikan jamu sudah dicampur oleh madu, gula merah dan aroma penyedap lainnya. Dan sudah tidak ada rasa pahitnya. Yang saya maksud adalah jamu godogan yang terdiri dari akar-akaran asli dari tanaman. Saya lupa nama tanamannya, dulu waktu kecil pernah meminum pertama kali dan langsung dimuntahkan lagi. Rasanya tidak enak, sangat pahit dan getir. Waktu itu sedang tidak enak badan, ibu saya menyarankan meminum jamu godogan tersebut. Baru ketika mencoba yang kesekian kalinya bisa masuk. Itu pun hanya setengah gelas dam cepat-cepat minum teh manis.

Keesokan harinya badan terasa sangat enak, enteng. Ibu saya bilang itulah manfaat jamu godogan. Terasa pahit di lidah tapi menyehatkan badan. Ibu saya hampir setiap minggu menyediakan jamu godogan tersebut. Campuran racikan digodog sampai mendidih dan setelah airnya tinggal separo dibiarkan sampai dingin. Jarang ke dokter, jarang sakit jarang masuk angin. Badan tetap fit dan sehat selalu. Padahal pekerjaan setiap harinya sangat bejibun. Orang tua kita memiliki cara sehat dengan alami dan tanpa efek samping. Filosofi jamu yang pahit itu sama dengan filosofi kehidupan.

Filosofi cokelat yang manis pun jangan diartikan manis tanpa efek samping. Anak saya yang yang berumur 5 tahun merasakan efek dari cokelat, es krim dan permen. Selain giginya gripis, juga gigi grahamnya berlubang. Pasalnya setelah makan cokelat, es krim dan permen, kadang lupa sikat gigi. Suatu hari pernah memaksa makan cokelat, mungkin sangat pengen. Tapi baru habis satu, dia langsung menangis kesakitan. Cokelatnya masuk ke gigi yang berlubang. Terlihat menahan rasa sakit. Dari situ langsung sikat gigi dan minum obat sakit gigi. Agak kapok keliatannya.

Pahitnya kehidupan dengan datangnya masalah yang bermacam-macam jangan diartikan sebagai bencana. Berikan makna bahwa semakin pahit hidup yang dijalani, maka akan semakin kuat mental kita untuk menghadapi apapun yang terjadi di kehidupan ini. Jangan berdoa disingkirkan dari berbagai masalah, berdoalan supaya memiliki kekuatan jiwa untuk menghadapi apapun persoalan yang terjadi. Jangan minta beban yang ringan dalam hidup ini, mintalah fisik yang kuat untuk menanggung beban tersebut.

Jangan gembira dulu dengan segala kesenangan dunia. Jangan-jangan ini hanyalah jebakan agar kita lupa diri, agar kita lalai. Bergembiralah alakadarnya ketika mendapatkan kebahagiaan, kesenangan dan nikmat yang  lainnya. Jangan bergembira terlalu berlebihan karena biasanya setelah gembira itu akan muncul duka dan kesedihan. Demikian hidup silih berganti satu hari datang sesuatu yang menyenangkan dan di hari yang lain datang sesuatu yang memilukan.

Tidak heran kalau ada sebagian orang yang sedih ketika mendapatkan sesuatu yang menggembirakan dan sebaliknya gembira ketika mendapatkan kesedihan. Senang ketika jalan naik dan sedih ketika jalan turun. Mengapa sedih ketika mendapatkan kegembiraan, karena dia sadar, setelah datang kegembiraan akan datang kesedihan. Dan gembira ketika mendapatkan kesedihan karena dia yakin setelah datang kesedihan pasti datang hal yang menggembirakan.

Seseorang yang dibesarkan dengan serba ketiadaan, biasanya memiliki mental yang lebih tangguh ketimbang seseorang yang dibesarkan dengan fasilitas. Orang yang serba tiada, hidup susah itu sudah biasa. Sementara yang banyak fasilitas, cenderung agak malas dan bergantung pada orang lain. Bahasanya, untuk melakukan sesuatu bisa minta tolong orang lain, padahal dia sendiri bisa melakukan sendiri. Ketika orang yang diminta tolong tidak ada, kelabakan dan kebingungan karena tidak ada yang bisa membantunya.

Banyak cerita-cerita sukses seseorang benar-benar berasal dari nol. Hidup apa adanya, bahkan serba tiada. Namun dengan kekuatan mental baja pantang menyerah, sulitnya kehidupan ini bisa dijawab beberapa waktu kemudian. Jangan lihat orang sukses dari kehidupan sekarang, tapi lihatlah, tanyalah kehidupannya di awal masa perjuangan. Kita akan bisa melihat, betapa orang sukses tersebut memiliki modal hidup yang tangguh baik modal mental maupun modal ilmu pengetahuan. Modal mental dan ilmu jauh lebih berharga ketimbang modal uang. (*)

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment