Janji Gak Ditepati, Kok Biasa Ya?

Oleh Ade Asep Syarifuddin

SUATU hari saya berencana untuk menemui seseorang karena sudah lama tidak bertemu. Biasanya, kalau teman dekat, dan saya ingin bertemu saya tidak usah memberi kabar orang tersebut terlebih dahulu. Apakah orang itu ada di tempat atau tidak ada di tempat, ya tetap saja pergi. Resiko paling banter tidak ketemu dan hanya ketemu anak buahnya. Kecuali memang penting sekali dan harus dipastikan bertemu, ya saya lakukan janjian atau paling tidak kasih kabar terlebih dahulu.

Di luar dugaan, teman saya mengabari bahwa ada orang yang ingin bertemu saya juga di jam yang sama. Orang itu belum pernah bertemu sebelumnya. Saya agak tercenung, apakah tetap pergi sesuai rencana awal atau menunggu tamu yang mau datang. Dengan pertimbangan saya belum janjian ke orang yang saya akan temui, saya sepakat untuk bertemu dengan tamu yang baru tersebut. "Oke saya tunggu tamu yang mau bertemu saya. Saya tidak jadi pergi," tutur saya ke teman yang bilang tadi.

Waktu berlalu 30 menit, tamu itu belum datang juga. Ketika sudah sampai 45 menit  saya tanya ke teman yang menjanjikan tadi. "Sudah sampai mana," tanya saya. Teman saya menelepon dan keluar ruangan. Sesampainya di dalam ruangan dia mengabari bahwa tamunya tidak jadi datang dengan alasan yang tidak jelas. Saya jadi bingung, sudah membatalkan rencana, menunggu tamu, malah tamunya yang membatalkan pertemuan.

Pernahkah Anda mengalami hal serupa? Entah apa yang terpikir oleh tamu yang batal datang tersebut. Apakah dia sudah biasa melakukan hal itu? Atau menganggap yang akan ditemuinya adalah orang biasa-biasa saja? Atau ada peristiwa emergency yang berakibat membatalkan janjinya. Saya tidak tahu. Tapi dilihat dari mimik teman saya, tidak ada terlihat tanda-tanda peristiwa emergency. Dan tidak ada juga rasa penyesalan sudah membatalkan janjinya.

Mungkin dia tidak berpikir, kalau hal itu terjadi pada dirinya.Entah ini penyakit orang Indonesia atau hanya terjadi pada orang-orang tertentu saja. Saya juga pernah mendengar cerita yang mirip-mirip dari teman saya yang lain. Ini lebih fatal, janjian sampai 3 kali, tapi dia juga yang  meng-cancel janjinya. Akhirnya dengan nada agak kesal, teman saya bilang, kalau sekali lagi minta ketemu dia akan berkata, "Mau ketemu atau tidak, tidak akan saya ladeni," katanya.

Hubungan inter-personal itu ada masa berlakunya dan ada juga masa kadaluwarsanya. Bagi teman-teman yang sangat dekat, tiap hari harus terjalin komunikasi. Baik lewat ketemu langsung, telepon, BBM-an dll. Menurut saya, untuk teman yang sangat dekat, di satu kota, ambang batas psikologi harus bertemu sekitar 2 minggu sekali. Lebih dari satu bulan, atau dua bulan, bisa mendekati masa kadaluwarsa. Apalagi sampai 3 bulan tidak ada komunikasi, maka akan muncul hubungan di bawah titik nol.

Saya punya teman cukup dekat. Karena satu dan lain penyebab, tidak berkomunikasi dalam waktu 2 bulan. Mau tidak mau, kalau tidak ingin melampaui ambang batas psikologi dalam komunikasi saya harus bertemu langsung dengan orang tersebut. Dan betul, saya saat itu bertemu di mana pun dia berada. Dan kalimat pertama yang saya ucapkan adalah permintaan maaf karena komunikasi macet dengan berbagai penyebab.

Begitu ketatkah membina komunikasi? Bisa ya bisa juga tidak. Kalau saya memiliki pertimbangan, jangan ada kesan memutus tali silaturahim. Selebihnya setiap orang memiliki alasan masing-masing. Kalau hal itu diterapkan kepada klien bisnis, konsumen dll maka akan ada bentuk komunikasi yang indah. Kenal tidak hanya karena memiliki kepentingan sesaat, kenal karena memang ingin saling menghargai, saling menghormati dan memelihara perkawanan.

Bisa jadi pola komunikasi kita yang dibangun masih bersifat basa-basi, masih bersifat alakadarnya dan masih dibangun oleh kepentingan sesaat. Ini tidak akan langgeng, tidak ada trust dan tidak ada komitmen. Hubungannya sangat hambar, tidak ada taste-nya. Ketika bertemu biasa saja, tidak bertemu pun biasa saja. Tidak ada kesan yang mendalam dari pola komunikasi model ini.

Mau pilih yang mana? Pilihlah hubungan atau komunikasi yang dilandasi oleh nilai-nilai universal, seperti nilai humanisme, nilai silaturahim dan  nilai-nilai luhur lainnya. Itu yang akan kekal, itu yang akan terkenang sepanjang masa. Kan tidak salah ketika tiba-tiba kita nongol di depan pintu kantornya, apalagi membawa sesuatu yang dianggap spesial, bisa menambah rasa penghormatan. Atau komunikasi yang basa-basi hanya ketika ada kepentingan belaka.

Lagi-lagi, silaturahim yang intens adalah bentuk apresiasi yang tinggi. Level silaturahim ini sudah level tingkat tinggi. Kalau terjadi pada konsumen dan produsen, sudah masuk dalan level fanatis. Mau mencoba? (*)

*) Penulis adalah GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment