Mengatasi Rasa Grogi dalam Public Speaking

Oleh Ade Asep Syarifuddin

SUATU hari, seseorang terlihat naik ke panggung menuju podium kehormatan untuk memberikan sambutan. Langkahnya terlihat ragu, entah karena tidak ada persiapan atau karena tidak biasa. Tiba di podium semua mata memandang ke arah dirinya. Tiba-tiba saja keringat dingin keluar dari semua pori-pori, baju yang dipakai dalam waktu singkat menjadi basah kuyup. Dan setelah mengucapkan salam tidak ada sepatah kata pun yang keluar. Dari perutnya tiba-tiba terasa mules tak tertahankan. Tanpa basa-basi orang tersebut turun dari panggung tanpa pamit dan pergi entah ke mana?

Pernahkah Anda melihat atau mengalami hal seperti itu? Mengapa keluar keringat dingin dalam jumlah banyak dan mengapa pula lambung terasa mules. Saya pernah mengalami hal itu beberapa tahun yang lalu. Saya agak lupa waktunya kapan, tapi saat itu sekitar kelas 1 SMP. Tiba-tiba saja saya ditunjuk menjadi Ketua Panitia Qurban di sekolah. Apa yang menjadi pertimbangan saya tidak tahu. Dan saya disuruh ke depan untuk memberikan sambutan dan memimpin rapat perencanaan. Saya hanya berani melangkah ke depan, sesudah di depan tidak tahu harus ngomong apa.

Nervous atau grogi di panggung ketika harus berpidato adalah hal biasa. Siapapun yang pertama kali menuju podium pasti akan grogi. Ketika grogi berlebihan, asam lambung di dalam perut keluar dalam jumlah banyak sebagai reaksi dari rasa takut. Itu yang menyebabkan rasa mules. Pertanyaannya, bisakah kita tidak grogi ketika pidato di podium. Bisakah kita menguasai panggung, bisakah kita menguasai forum? Sehingga pidato kita bisa seperti Soekarno ketika berpidato?

Bisa saja. Sebenarnya, pidato itu merupakan keahlian yang dibiasakan. Siapapun bisa melakukannya. Orang yang ahli pidato sekalipun, ketika pertama kali menuju panggung pasti akan nervous. Lama kelamaan karena biasa akhirnya rasa nervous tersebut bisa hilang. Kapan nervous itu hilang? Seiring dengan berjalannya waktu. Saya sendiri mempunyai pengalaman yang agak unik dalam pidato atau public speaking ini.

Sekitar tahun 1991, saat itu masuk perkuliahan, ayah saya menyuruh (memaksa) saya untuk menggantikan ceramahnya di sebuah majelis taklim setiap hari Minggu pagi. AWalnya saya menolak dengan alasan tidak siap. Coba dulu saja, katanya. Dan percobaannya tidak hanya sekali, sampai sekitar 2 tahun. Ceramah di depan ibu-ibu usia 50 tahun ke atas, dengan Bahasa Daerah. Akhirnya menjadi biasa. Saya menganggap ini adalah latihan berbicara di depan orang banyak. Kalaupun saat itu saya salah ngomong, tidak akan ada satu orang pun yang protes. Makin lama makin tumbuh rasa percaya diri untuk bicara di depan forum.

Ini mirip-mirip berenang. Ketika kita ingin lancar berenang, maka tidak usah terlalu banyak membaca buku teori berenang. Langsung saja nyebur ke air. Bisa jadi kita akan tenggelam, akan minum air, tapi kita jadi tahu bahwa ketika di dalam air dan ingin tetap terapung maka harus menggerakkan anggota tubuh kita. Dari situlah pengalaman demi pengalaman langsung muncul. Dan lama kelamaan air menjadi teman, air bukan masalah. Ketika ingin terampil berpidato, maka sering-seringlah tampil ke podium dan langsung bicara apa saja yang ada di kepala. Lama kelamaan akan terampil juga bicara di podium.

Konsepnya sama seperti kita ngobrol face to face. Obrolan akan mendapatkan respons positif jika mampu menarik perhatian audien. Pidato pun sama, apakah tema yang kita sampaikan menarik atau tidak. Setelah lancar ngomong, selingi dengan humor. Humor dalam pidato itu mirip dengan bumbu dalam masakan. Kalau masakan tanpa bumbu maka akan terasa hambar. Tapi jangan juga terlalu banyak humor karena bisa jadi pesan yang disampaikan menjadi tidak jelas. Dalam berpidato pun ketika jumlah orang yang hadir cukup banyak, kita harus membagi pandangan dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Kalau bisa melihat satu per satu tatapan matanya. Tampilkan wajah sumringah disertai senyuman yang tulus. Kalau belum percaya diri ngomong di depan orang banyak, ada cara sederhana yang bisa dilakukan. Sering-seringlah pidato di depan cermin yang dilakukan secara serius. Lihat mimik kita, lihat gestur kita, lihat aksentuasinya, dan lihat wajah secara keseluruhan. Lakukan secara berulang-ulang.

Kalau mempunyai alat yang agak bagus, pakailah handycam untuk merekam gaya pidato kita. Kemudian putar kembali, beri catatan di tempat mana yang sudah cukup baik dan di mana yang masih banyak kekurangan. Jangan di-delete antara hasil rekaman yang satu dengan rekaman berikutnya. Bila ada 10 rekaman, dan dari rekaman yang satu ke rekaman berikutnya dipastikan akan mengalami banyak perbaikan, pada rekaman terakhir sudah memiliki gaya pidato yang standar. Selamat mencoba. (*)

*) Penulis adalah GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment