Strategi Menjual Diri yang Efektif


Oleh Ade Asep Syarifuddin

PERNAHKAH kita mendengar kata menjual diri? Kebanyakan asosiasi kita mendengar kata menjual diri dikonotasikan kepada perempuan murahan yang menjajakan cintanya kepada pria hidung belang. Menjual diri yang saya maksud bukan dalam arti di atas. Menjual diri sendiri dalam pengertian mengemas diri kita dengan berbagai macam profesi tertentu kemudian dikomunikasikan dengan sebanyak-banyaknya orang, sehingga kita dikenal sebagai "apa" oleh orang banyak itu.

Diri kita adalah brand persis seperti produk pada umumnya. Mau dikenal seperti apa branding kita, kita sendiri yang menentukan. Apakah mau dikenal sebagai brand yang bermutu, baik, memuaskan konsumen, kualitas tinggi, menyenangkan atau sebaliknya. Kita sendiri yang akan menentukan. Kabar kurang baiknya, masih banyak di antara kita yang belum sadar bahwa kita secara pribadi perlu mengemas diri kita sehingga bisa diterima di semua kalangan dengan brand tertentu.

Apa bedanya personal branding dengan brand produk pada umumnya? Memang berbeda, yang satu adalah manusia yang memiliki rasa, pikir dll, yang lain adalah barang. Namun kalau ingin diterima di semua kalangan, personal branding harus meniru branding produk dalam cara me-marketing-kannya. Coba apa saja yang harus dilakukan agar sebuah produk laris manis dan disukai banyak orang?

Kualitas value untuk kepentingan tertentu harus nomer satu. Contoh, kalau kita membeli sabun cuci merek apa yang kita beli? Misal saja produk A. Seseorang sampai jatuh kepada pilihan A melalui proses yang cukup panjang, pertama ada orang yang testimoni dan makin lama testimoni itu makin banyak, kedua kita mencoba dan hasilnya sesuai dengan harapan kita dan sama dengan testimoni orang-orang, ketiga di beberapa tempat kita melihat banner, baliho iklan tersebut, di televisi kita juga melihat, ketika datang ke banyak toko, kita juga melihat, di radio sering kita dengar.

Kalau produk tersebut ada yang cacat, kadaluwarsa atau hal-hal lain yang merugikan konsumen, bisa ditukar dengan produk yang baru dengan cara yang mudah dan bisa dilakukan di mana saja. Ujung-ujungnya adalah, konsumen merasa puas dengan kualitas produk tersebut dan tidak pernah dibohongi. Antara iklan yang ada di televisi dan kualitas produk benar-benar sama.

Bagaimana dengan personal branding? Merujuk pada contoh branding di atas, setiap orang harus memiliki kualitas tertentu. Artinya, setiap orang memiliki keahlian, keterampilan tertentu yang bisa bermanfaat untuk kepentingan orang banyak. Keahliannya apa saja tidak mesti yang sulit-sulit. Tidak mesti menjadi professor atau ilmuwan yang njlimet. Menjadi tukang memungut sampah yang datang tepat waktu, sudah diambil sebelum sampah menggunung dll. Atau menjadi tukang servis AC, menjadi guru, tukang sapu, pembicara, penyiar dll. Sampai pada akhirnya seseorang dikenal oleh banyak orang sebagai apa. Kalau menyebut nama A langsung tergambar profesi tertentu.

Bagaimana kalau sering gonta-ganti profesi. Hari ini sebagai penjual donut, sebulan kemudian berganti menjadi even organizer, kemudian ganti lagi sebagai terapis. Orang model begini juga akan terkenal. Terkenal sebagai apa? Sebagai orang yang berubah-ubah profesi, namun kelemahannya tidak semua orang mengikuti perubahan tersebut. Bisa jadi orang akan mengontak dia untuk memesan donut, tapi dia sudah tidak jualan donut lagi. Orang akan kebingungan untuk mengidentifikasi profesi apa yang ditekuni orang tersebut.

Yang paling baik adalah, memilih satu profesi dan menekuninya sampai ahli. sebulan yang lalu dia adalah terapis, setahun kemudian dia terapis juga tapi sudah buka praktek di rumah. Dua tahun kemudian dia terapis dan sudah memiliki jaringan di beberapa tempat. Brandingnya satu terapis, tapi makin lama makin maju, makin besar dan otomatis pendapatannya juga makin banyak.Saya punya teman, lima tahun yang lalu dia berprofesi sebagai terapis bekam dan penjual ramuan herbal. Saya pernah dibekam oleh dia beberapa kali.

Secara pribadi saya percaya dia dan terapi yang dia lakukan pun memiliki efek kesehatan yang nyata. Setelah dia menerapi saya, memang terasa jauh lebih sehat. Pribadinya juga santun, memiliki visi yang kuat untuk menyehatkan semua orang, antusias ketika berbicara dan kalau pasien yang diterapiya tidak mampu dia gratiskan. Sekarang dia juga masih terapis bahkan semakin profesional keahliannya, semakin bagus pola komunikasinya dan semakin banyak jaringannya.

Ada nilai-nilai profesionalisme (keahlian), secara kepribadian memiliki integritas, ingin berbagi dengan orang-orang yang tidak mampu dan semangatnya selalu menggebu-gebu. Dan dari sana akan muncul repeat order. Orang-orang akan mengulang lagi dan mengulang lagi ketika membutuhkan.Apa yang akan kita jual dari diri kita? Kalau belum memiliki keahlian, mulailah sejak hari ini menekuni profesi apa yang paling diminati. Tidak usah khawatir dengan banyaknya profesi serupa, selagi ahli, dan orang-orang percaya, orang yang cocok dengan kita akan datang kembali. Dengan kata lain setiap profesi memiliki segmen sendiri-sendiri. Lama kelamaan kita akan dikenal dengan branding tertentu yang bermanfaat untuk banyak orang. Selamat mencoba. (*)

*) Penulis adalah GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment