Persepsi (1)

Oleh Ade Asep Syarifuddin

SUATU hari, Direktur Pengembangan sebuah perusahaan garmen memerintahkan seorang managernya untuk membuka pabrik di Papua. Katakan namanya si A. Direktur ingin mengetahui apakah pedalaman Papua layak untuk didirikan pabrik germen atau tidak. Keesokan harinya berangkatlah si A ke pedalaman Papua. Sesampainya di Papua, medan yang harus ditembus menuju pedalaman cukup sulit. Untuk menembus pedalaman perlu waktu 3 hari. Itu pun dengan susah payah karena medannya masih menggunakan jalan setapak. Tiba di lokasi ia mulai berkenalan dengan penduduk yang masih menggunakan (maaf) koteka. Belum ada satu pun yang memakai jeans, kemeja, apalagi T-Shirt. Orang menjemur pakaian pun nyaris tidak terlihat.

Waktu survei habis, Si A pulang dengan perasaan hampa. Sampai di kantor dia langsung lapor ke Direktur Pengembangan. "Lapor Pak.... saya sudah ke Papua selama seminggu perjalanan. Saya sangat susah untuk sampai di perkampungan dimaksud. Setelah diadakan survei selama beberapa hari, kesimpulannya kita tidak cocok membuka pabrik garmen di sana. Penyebabnya, tidak ada satu orang pun yang memakai baju di sana. Semua orang masih memakai koteka. Demikian Pak," katanya.

Tidak puas dengan surveyor pertama, Direktur Pengembangan kembali mengutus orang yang berbeda ke Papua dengan misi yang sama. Seminggu berlalu, surveyor kedua, sebutlah si B dengan wajah berbinar-binar dia berkata. "Lapor Pak... Kita tidak salah pilih lokasi, kita sangat tepat untuk membuka pabrik garmen di sana. Di sana orang-orang belum memakai baju, masih menggunakan koteka. Kalau kita buat pabrik garmen di sana, peluangnya sangat besar karena tidak ada pesaing lain. PR kita hanya satu, mensosialisasikan bahwa baju adalah busana yang akan membuat mereka lebih nyaman, lebih terjaga dari terik matahari dan lebih berbudaya. Selagi kita membangun pabrik, kita bisa memberikan sampel pakaian yang akan dikenakan mereka. Dan sesudah pabrik selesai dibangun, maka mereka akan berbondong-bondong membeli baju," kata surveyor kedua.

Mengapa surveyor pertama kesimpulannya berbeda dengan surveyor kedua? Karena surveyor pertama melihat kondisi objektif lokasi dengan persepsi orang memakai koteka maka tidak akan mau memakai baju. Sementara surveyor kedua, melihat kondisi objektif sebagai peluang, orang memakai koteka ada peluang untuk memakai baju. Bahkan surveyor kedua menawarkan kepada Direktur Pengembangan untuk menjual mesin cuci, detergent, setrika dan pembangkit listrik. Peluang yang dibawanya sangat banyak.

Dalam cerita kedua dikisahkan, sebuah pabrik sisir sedang mencari segmen baru. Marketingnya ditugaskan untuk menjual sisir kepada bara biksu yang tidak memiliki rambut. Marketing pertama langsung menolak dan tidak mau menjual. Dia berkata, "Mana mungkin menjual sisir kepada para biksu yang tidak pernah menyisir?" Sementara marketing kedua dia masih mencoba untuk menjual walaupun cara menjualnya sangat tidak profesional. Marketing kedua meminta belas kasihan kepada biksu untuk membeli, entah bermanfaat atau tidak sisir tersebut. Sementara marketing yang ketiga, dia menemui pimpinan biksu tersebut. Kebetulan wilayah tersebut adalah tempat wisata religius.

Marketing ketiga menawarkan program kerja win-win solution, komunitas biksu tersebut menjual sisir kepada para wisatawan. Sisir tersebut diberi logo dan nama komunitas biksu. Pimpinan biksu setuju dan dibuatlah sisir dalam jumlah banyak. Dalam kurun waktu satu bulan, penjualan sisir dari marketing ketiga ini melampaui target. Dari target 1000 buah per bulan, dia bisa menjual 10.000 buah per bulan. Perusahaan senang, marketingnya juga jelas senang dan para biksu tidak usah memakai sisir untuk menyisir kepalanya yang tidak berambut, namun menjual kepada para wisatawan yang datang. Para wisatawan terlihat sangat senang karena bisa membeli cenderamata yang murah tapi manfaatnya sangat banyak.

Itulah persepsi, cara pandang, sudut pandang. Tiga orang melihat benda yang sama, akan memiliki tiga sudut pandang. Sudut pandang mana yang paling menguntungkan, yaitu sudut pandang apapun yang ada bisa memberikan peluang. Pernahkah dulu kita membayangkan kalau mendengarkan musik sambil berjalan-jalan? Dulu mana ada mendengarkan musik sambil jalan-jalan. Tapi Sony Walkman mengubah persepsi, bahwa mendengarkan musik bisa sambil jalan-jalan. Alatnya bisa dibawa ke mana kita mau. Dulu orang berjualan harus dilayani oleh penjualnya. Bagi orang yang ingin memilih belanja tidak usah bertemu dengan penjual dan ingin membeli sendiri secara bebas dan waktu yang lama, maka muncullah pasar swalayan yang tidak harus menunggu barangnya di depan pembeli.

Bagaimana supaya kita memiliki persepsi yang selalu menguntungkan? Tidak terlalu rumit, perluaslah wawasan kita tentang berbagai macam persoalan di sekitar kita. Kemudian milikilah sikap apapun yang terjadi, pasti ada kebaikan yang bisa kita ambil. Intinya, persepsi yang menguntungkan berawal dari sikap berbaik sangka. Walaupun terasa pahit? Ya betul, walaupun terasa tidak enak, milikilah persepsi yang baik, dalam semua aspek kehidupan. Selain nikmat menjalaninya, kita akan mendapatkan manfaat yang sangat banyak dan tidak terduga, bahwa modal baik sangka memunculkan ribuan peluang yang sangat menguntungkan kita. (*)

*) Penulis adalah GM Radar Pekalongan
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment