Persepsi (2)


Oleh Ade Asep Syarifuddin

SIAPAKAH yang pernah membaca buku Seven Habits karya Stephen R. Covey? Di dalamnya diulas juga mengenai makna persepsi dengan gambar yang sangat gamblang tapi harus ditinjau dari beberapa sisi. Gambarnya seperti di atas ini. Gambar apakah itu? Apakah gambar seorang nenek-nenek dengan usia di atas 70 tahun? Hidungnya besar? Nenek tersebut menutup rambutnya dengan kain putih. Bisakah Anda melihat itu? Atau bisa jadi ada yang berpendapat, itu bukan seorang nenek, tapi seorang gadis muda, usia sekitar 15-17 tahun. Apakah Anda bisa melihat itu? Kalau belum perhatikanlah baik-baik.

Sementara di gambar kedua, gambar apakah ini? Apakah Anda melihat gambar seorang kakek tua yang sudah beruban? Atau Anda melihat gambar seorang cowboy naik kuda di bawah sebuah jembatan yang melengkung, di belakangnya ada sungai yang mengalir air dari hulu ke hilir. Di atas tanah ada seseorang yang terbaring kedinginan. Apakah Anda melihat itu? Dan apakah Anda bisa sangat cepat melihatnya, atau butuh beberapa menit untuk melihat lebih jelas?

Yang paling populer adalah di gambar ketiga, seekor gajah dipegang oleh 6 orang buta. Orang buta pertama memegang belalai, dia bilang saya gajah itu mirip dengan seekor ulang, orang kedua memegang kakinya yang besar, orang ini bilang gajah itu seperti pohon, orang ketiga memegang ekor gajah, dia bilang gajah itu seperti seutas tali, orang keempat memegang punggung gajah yang lebar, dia bilang gajah itu seperti tembok, orang kelima memegang telinga gajah yang selalu bergerak, dia bilang gajah itu seperti kipas, orang keenam memegang gading gajah, dia bilang gajah itu adalah seperti tombak.

Kok bisa? Ya bisa karena mereka mengartikan gajah sesuai dengan yang mereka pegang dan mereka sama sekali tidak tahu gajah yang sebenarnya, hanya dari sudut pandang yang mereka tahu. Ceritanya akan bereda, bila 6 orang buta tersebut secara bergantian memegang organ tubuh gajah yang berbeda-beda tadi. Mereka akan mendapatkan pengalaman yang bermacam-macam dan dipastikan pendapatnya tidak seperti sebelumnya.

Kadang dalam kehidupan sehari-hari kita terlalu yakin dengan pendapat yang kita punya. Padahal kita baru melihat dari satu sisi. Dan yang kurang eloknya, ketika kita sangat yakin dengan pendapat kita sendiri, itu dibarengi dengan sikap menyalahkan orang lain. Pernahkah kita melihat orang yang bersikeras dengan pendapatnya sendiri dan menyalahkan orang lain? Pernahkah kita melihat orang yang mengatakan hanya pendapatnya saja yang benar, dan di luar itu salah? Itulah cerminan dari orang buta yang memegang salah satu organ tubuh gajah.

Apakah kenyataan yang ada bisa ditangkap secara utuh oleh pikiran kita? Tidak bisa, pikiran manusia tidak bisa menangkap secara utuh dan secara detil atas peristiwa yang terjadi di alam raya ini. Manusia hanya menangkap sebagian dari yang sebenarnya. Semakin banyak ilmu pengetahuan seseorang maka akan semakin rendah hati. Mengapa? Karena orang ini sadar, walaupun sudah banyak belajar, tapi hanya sedikit yang dia pahami. Dan hanya dari sudut pandang dia sajalah sesuatu itu diketahui. Sementara orang yang baru belajar sesuatu, biasanya dia merasa sudah mengetahui banyak hal. Padahal baru segelintir ilmu yang dia ketahui. Baca juga Persepsi 1

Orang bijak yang penuh wawasan tidak akan kaget ketika melihat 2 orang yang saling menyalahkan karena perbedaan pendapat. Dia akan berpendapat, orang itu bertengkar bukan karena mau bertengkar, tapi dia bertengkar karena ketidaktahuannya. Coba kalau orang tersebut mengetahui segala hal, pertengkaran yang mubazir itu tidak akan terjadi. Oleh karenanya, kalau melihat strata pikiran manusia berdasarkan yang diketahui maka akan ada 4 strata.

Pertama, manusia yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Biasanya jenis manusia ini yang malas belajar dan tidak mau tahu sesuatu hal yang terjadi di luar pikirannya. Kedua, manusia yang tahu bahwa dia tidak tahu. Ini adalah jenis manusia yang mulai belajar dan mulai sadar ternyata masih banyak hal yang belum diketahui. Ketiga jenis manusia yang tahu bahwa dia tahu. Setelah belajar akhirnya manusia ini bisa mengetahui kemampuannya dan merasakan hasilnya atas pengetahuan yang dimilikinya. Keempat, manusia yang tidak tahu bahwa dia tahu. Ini jenis manusia yang rendah hati. Walaupun dia mengetahui segala hal, kadang tidak pernah menampakkan diri bahwa dia tahu. Kecuali bila diperlukan untuk mengungkapkannya, baru dia bicara.

Termasuk kelompok manusia yang manakah kita? Bila terus menerus mau belajar, itulah sebaik-baiknya manusia. Jangan pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang sudah kita tahu. Ilmu tidak ada batasnya, yang kita tahu hanyalah setetes air di lautan. Masih banyak yang harus dipelajari untuk menjadikan dunia ini lebih wisdom dan penuh kearifan. (*)

*) Penulis GM Harian Radar Pekalongan.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar :

Post a Comment